Ayam Sumbang Inflasi Gara-Gara MBG, Bapanas Turun Tangan Subsidi Ongkir
Sabtu, 03 Okt 2026, 19:20 WIBJAKARTA â Komoditas daging ayam ras sepanjang September dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) kembali menyumbang andil terhadap inflasi nasional. Ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan permintaan daging ayam ras didorong oleh kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah dan juga faktor harga pakan ternak.
Sebagai antisipasi fluktuasi harga yang berlebihan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menguatkan perannya untuk dapat membantu pemerintah daerah yang bukan produsen daging ayam ras dan tengah mengalami fluktuasi harga. Subsidi biaya angkut dari daerah produsen menjadi solusi yang disiapkan.
"Jadi begini, ini ada kebutuhan semakin banyak, mungkin dalam bulan-bulan terakhir terjadi kenaikan, tapi masih harga yang wajar, masih di batasnya, tidak secara keseluruhan. Di daerah pun masih banyak yang murah. Hanya tempat-tempat tertentu saja yang mungkin produsen ayamnya kurang," terang Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan di Jakarta, Sabtu (3/10/2026).
Menurut Deputi Bapanas Hermawan, salah satu kendala yang kerap dihadapi pemerintah daerah dalam upaya stabilisasi harga pangan pokok strategis adalah adanya biaya angkut distribusi dari luar daerahnya. Apalagi jika daerah tersebut bukan daerah sentra produsen.
"(Untuk) angkutan distribusi, kita bisa subsidi dari Bapanas, supaya penyerapan produksi dari tempat produsen yang lebih, bisa menyebar ke seluruh daerah. Bapanas memastikan bahwa mana daerah yang kurang (pasokan) akan disuplai dari daerah-daerah yang produsen. Kita anggaran masih ada," kata Hermawan lagi.
Mengenai perkembangan harga daging ayam sampai saat ini, dalam pemantauan harga Bapanas, per 2 Oktober rerata harga secara nasional berada di Rp 40.961 per kilogram (kg). Ini sebenarnya telah terjadi penurunan 0,62 persen terhadap seminggu sebelumnya yang Rp 41.218 per kg dan menurun 0,82 persen terhadap sebulan sebelumnya yang Rp 41.300 per kg.
Untuk diketahui, komoditas daging ayam ras sempat jatuh pada April 2026 dengan mencatatkan deflasi hingga 6,20 persen. Bulan selanjutnya pada Mei 2026 juga kembali deflasi di angka 3,83 persen. Dampak deflasi tentu saja sangat mempengaruhi peternak unggas dalam negeri.
Selain itu, berdasarkan data BPS, indeks harga yang diterima petani unggas mulai menurun setelah Maret 2026 sempat bertengger sangat tinggi di 138,19. Namun April 2026 turun ke 132,22. Mei 2026 kembali turun ke 130,57. Juni dan Juli 2026 masing-masing turun ke 127,23 dan 127,02. Terakhir pada Agustus dan September 2026 kembali menguat menjadi 132,43 dan 134,99.
"Untuk daerah-daerah yang produksinya kecil, kemudian mengalami kenaikan harga, kita imbau supaya pemerintah daerah meminta kepada kami untuk subsidi masalah distribusinya. Mereka terkendala biasanya (karena) distribusinya mahal," ungkap Deputi Bapanas Hermawan.
Dilihat dari segi ketersediaannya, proyeksi stok daging ayam ras sampai akhir tahun 2026 masih dapat mencapai 1 juta ton. Ini berdasarkan stok awal tahun 2026 yang berada di 200 ribu ton ditambahkan estimasi produksi dalam negeri setahun yang diperkirakan 4,7 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi nasional 3,9 juta ton.Â
Surplus pada daging ayam ras ini tentunya harus dijaga pemerintah secara proporsional. Keseimbangan harga mulai dari hulu sampai hilir patut dijaga kewajarannya. Intervensi di hilir seperti subsidi biaya angkut juga diiringi melalui intervensi di hulu yang menyasar ke peternak unggas.
Salah satunya melalui pelaksanaan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan. Langkah ini juga merupakan pengejawantahan dari arahan Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman agar jajarannya dapat terus terus mengawal ketersediaan jagung pakan bagi peternak.Â
Kepala Bapanas Amran telah menginstruksikan Perum Bulog untuk terus melayani peternak unggas yang membutuhkan jagung pakan dengan harga lebih ekonomis. Alokasi SPHP jagung pakan pun rencananya akan ditambah 150 ribu ton.
âMenambah dan memperpanjang SPHP. Nah itu Bulog, tanggung jawab saya, Bulog, perpanjang sepanjang-panjangnya. Selama peternak butuh, kasih. Titik. Mudah, jangan ada basa-basi. SPHP Bulog kita lanjutkan," beber Kepala Bapanas Amran.Â
Sebagai informasi, program SPHP jagung pakan tahun 2026 tahap pertama telah dimulai sejak awal Mei lalu. Total kuota salur ditetapkan sebanyak 213,2 ribu ton yang terdiri dari kebutuhan jagung pakan bagi kelompok peternak skala usaha mikro, kecil, dan menengah.Â
Adapun realisasi salur SPHP jagung pakan per 2 Oktober telah mencapai 71,36 persen dari total target tahap pertama dan kedua yang 241,2 ribu ton. Secara kuantitas sebanyak 172,1 ribu ton telah diakses peternak yang tersebar di 29 provinsi. Daerah dengan jumlah peternak tertinggi adalah Jawa Timur dengan 3.690 peternak dan Jawa Tengah 2.017 peternak.
Keberpihakan pemerintah terhadap ekosistem peternak unggas nasional diwujudkan melalui penambahan alokasi untuk program SPHP jagung pakan. Sebanyak 150 ribu ton resmi diproses pemerintah yang nantinya akan menambah alokasi penugasan untuk Perum Bulog. Dengan komitmen ini, pemerintah memastikan akan terus mengawal ketersediaan jagung bagi peternak unggas.Â
- harga pangan
- Inflasi Pangan
- harga ayam
- Makan Bergizi Gratis (MBG)
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Tak Lagi Diatur Tengkulak, 40 Ton Ayam Afkir Jatim Tembus Makassar, Kerja Sama Antarkoperasi Stabilkan Pasar
-
Update Klasemen Super League 2026/27: Bali United di Posisi Puncak Dibayangi Madura United dan Persija, PSS Sleman Masih Tanpa Poin
-
Ndarboy Gank Meriahkan Pesta Rakyat di Bundaran HI dengan “Kicau Mania"
-
Mahasiswa FIK UI Ajarkan Cuci Tangan kepada 200 Anak Migran Myanmar di Thailand
-
Hasil Undian Liga Champions: PSG Ditantang Barcelona dan Manchester City
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.