Mau Menikah? Buku 'I DO' Karya Meilinda Bisa Jadi Referensi
📅 Sabtu, 06 Jul 2024, 12:30 WIB | Oleh: Mohammad Zaki Alatas
Doc: Istimewa
JAKARTA - Pernikahan zaman sekarang telah memasuki tren baru. Angkanya secara konsisten mengalami penurunan, perceraian kian meningkat, dan pemberitaan tentang KDRT seolah tiada ujungnya.
Semua ini tak pelak membuat orang bertanya-tanya, apakah pernikahan seburuk itu?
Tidak, jika itu dengan pasangan yang tepat dan hubungan yang sehat. Fenomena kegagalan rumah tangga sendiri, dalam ilmu family constellation atau konstelasi keluarga, dipahami sebagai akibat tidak pulihnya pola rantai toksik yang diwariskan orang tua dan leluhur.
Oleh karenanya, mengenali pasangan, keluarganya, dan histori diri sendiri sudah sepatutnya menjadi kewajiban sebelum memasuki hubungan jangka panjang.
Buku "I DO" merupakan karya kedua dari penulis best-selling Meilinda Sutanto, seorang terapis konstelasi keluarga yang buku pertamanya berjudul "Family Constellation" dicetak ulang sebanyak empat kali sepanjang tahun 2023 lalu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Diterbitkan oleh Gramedia dan Elexmedia, buku ini bukan membahas tentang bagaimana menciptakan pernikahan seindah tema fairy tale, melainkan memandu pembacanya untuk mengenali dan memutus trauma turun-temurun yang berpotensi merusak hubungan.
"Dengan metode konstelasi keluarga yang dapat mengidentifikasi masalah ke akar, temukan jalan untuk membangun, membina, dan mentransformasi hubungan berpasanganmu menjadi lebih sehat, intim, dan memuaskan," kata Meilinda saat peluncuran bukunya, di Jakarta, kemarin.
Tema relationship diangkat dalam buku kedua ini mengingat betapa pentingnya setiap pasangan untuk dapat menciptakan dan menjaga hubungan sehat sebagai fondasi kuat saat membangun dan membina rumah tangga.
Sebaiknya Anda baca juga:
Fase penting yang tidak dapat dilewati begitu saja, dalih-dalih langsung menjajaki urusan parenting atau "yang penting anak" yang bisa berdampak negatif baik dalam perkembangan anak, maupun terhadap karir dan tingkat kepuasan dalam hidup.
"Seiring dengan berjalannya waktu, cinta dan pernikahan berevolusi sesuai jaman. Ketika jaman dulu pernikahan dianggap sebagai sarana atau alat untuk bertahan hidup bagi seorang Perempuan, jaman sekarang pernikahan menjadi pilihan dan bukan keharusan," tambah Meilinda.
Di sini pentingnya bagaimana kita bisa menavigasi perubahan yang terjadi dalam masyarakat ini karena makna keahagian bagi setiap orang berbeda.
Buku ini cocok bagi siapapun yang:
* Mau mempersiapkan kehidupan bersama setelah mengikat janji pernikahan
* Sedang dalam tahap berpacaran serius maupun tidak serius
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!