Traveler Perempuan Berisiko Alami 2 Hal Ini, Bagaimana Mengatasinya?
📅 Sabtu, 29 Jun 2024, 13:29 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/Kitzcorner
Inayah Hidayati, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Penelitian tahun 2023 di Taiwan menunjukkan bahwa perempuan yang melakukan perjalanan solo menghadapi berbagai risiko. Temuannya menyoroti tantangan keamanan dan keselamatan yang dihadapi oleh perempuan yang bepergian sendirian.
Penulis selaku peneliti di bidang mobilitas penduduk, geografi dan demografi sosial melakukan studi tentang tren, tantangan, dan peluang dalam mobilitas perempuan, guna menyoroti kebutuhan akan langkah-langkah yang lebih efektif dalam meningkatkan kesadaran, pendidikan, dan keamanan untuk melindungi perempuan yang melakukan perjalanan solo.
Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melibatkan wawancara mendalam kepada 25 partisipan perempuan yang pernah melakukan perjalanan solo.
Untuk memperoleh data yang beragam, partisipan dipilih dengan mempertimbangkan berbagai faktor demografi dan sosial, termasuk usia, status perkawinan, dan pekerjaan utama. Proses wawancara dilaksanakan secara langsung dengan durasi 1-2 jam untuk setiap partisipan, dalam kurun waktu 2 bulan (September-Oktober 2023).
Sebaiknya Anda baca juga:
Risiko perjalanan solo bagi perempuan
Temuan studi penulis menunjukkan adanya 2 risiko yang dihadapi perempuan ketika melakukan perjalanan solo, yaitu:
1. Resistensi budaya
Sebaiknya Anda baca juga:
Peningkatan tren perjalanan solo, terutama di kalangan perempuan yang mencari jati diri, pemberdayaan, dan kebebasan menghadapi perlawanan dalam budaya tertentu, terutama di Asia, di mana nilai-nilai tradisional dan norma sosial tidak selalu mendukung perempuan untuk bepergian sendirian.
Meski dihadapkan pada resistensi budaya, pelancong perempuan tetap termotivasi oleh keinginan internal akan kebebasan. Mereka tetap memulai petualangan solo meskipun keputusan tersebut mungkin dianggap tidak konvensional dalam konteks budaya mereka.
2. Pelecehan seksual
Pelecehan seksual merupakan risiko yang menjadi keprihatinan serius bagi perempuan yang melakukan perjalanan solo. Hasil studi penulis menemukan 5 dari 25 narasumber mengalami pelecehan seksual, khususnya pelecehan verbal. Perempuan yang bepergian sendirian, rentan risiko pelecehan seksual dan kekerasan berbasis gender, terutama jika dibandingkan dengan pelancong pria.
Tindakan pelecehan verbal ini termasuk kata-kata merendahkan, ajakan untuk hubungan seksual, dan komentar seksual yang tidak diinginkan lainnya.
Pelecehan verbal tidak boleh dianggap enteng, karena meninggalkan dampak yang berkelanjutan dan dapat menyebabkan trauma pada korban. Penting untuk diakui bahwa catcalling , yang mencakup bersiul, komentar verbal yang tidak diinginkan, dan pujian yang tidak pantas, masuk dalam kategori pelecehan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!