- Home
-
- Luar Negeri
-
- PBB Perkirakan La Nina Dap...
PBB Perkirakan La Nina Dapat Membantu Turunkan Suhu pada 2024
Selasa, 04 Jun 2024, 00:00 WIBJENEWA - Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organisation (WMO), pada Senin (3/6), mengatakan kembalinya fenomena cuaca dingin La Nina pada tahun 2024 akan membantu menurunkan suhu setelah berbulan-bulan mencatat rekor panas global.
"Dampaknya kemungkinan besar akan terasa dalam beberapa bulan ke depan karena pola cuaca El Nino yang memanas, yang turut memicu lonjakan suhu global dan cuaca ekstrem di seluruh dunia sejak pertengahan tahun 2023 menunjukkan tanda-tanda akan berakhir," kata Badan Cuaca PBB itu dalam laporan terbarunya.
Dikutip dari The Straits Times, namun WMO memperingatkan suhu global akan terus meningkat dalam jangka panjang karena perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia, yang terus memperburuk cuaca ekstrem dan mengubah pola curah hujan dan suhu musiman.
La Nina mengacu pada pendinginan suhu permukaan laut di sebagian besar wilayah tropis Samudera Pasifik, ditambah dengan angin, hujan, dan perubahan tekanan atmosfer.
Di banyak lokasi, terutama di daerah tropis, La Nina menimbulkan dampak iklim yang berlawanan dengan El Nino, yaitu memanaskan permukaan lautan, menyebabkan kekeringan di beberapa bagian dunia dan memicu hujan lebat di tempat lain.
WMO mengatakan ada kemungkinan "60 persen" terjadinya kondisi La Nina pada periode Juli hingga September dan kemungkinan "70 persen" pada bulan Agustus hingga November. "Kemungkinan terjadinya kembali El Nino dapat diabaikan," tambahnya.
Tahun Terpanas
Setiap bulan sejak Juni 2023, ketika El Nino kembali terjadi, telah mencatat rekor suhu tertinggi baru, dan tahun 2023 sejauh ini merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat secara global.
WMO mengatakan bumi akan terus memanas secara keseluruhan akibat penggunaan bahan bakar fosil yang menghasilkan gas rumah kaca.
"Berakhirnya El Nino tidak berarti jeda dalam perubahan iklim jangka panjang, karena planet kita akan terus memanas akibat gas rumah kaca yang memerangkap panas," tegas Wakil Sekretaris Jenderal WMO, Ko Barrett.
Suhu permukaan laut yang sangat tinggi akan terus memainkan peran penting selama beberapa bulan ke depan. Sebagian besar kelebihan panas akibat perubahan iklim disimpan di lautan.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Dramatis! Ibu Hamil Pecah Ketuban di Pulau Terpencil, Polairud Manggarai Barat Larikan ke RS
-
Mesir: Hubungan Pendidikan dengan Indonesia Sangat Istimewa
-
Dinkes: Penderita TBC di Tangerang Capai 5.101 Kasus
-
Menuju Hari Anak Nasional, Lebih dari 3.000 Anak Ikuti Soyalympic 2026
-
Prancis Konfirmasi Kasus Ebola Pertama, Dokter yang Pernah Bekerja di Kongo
-
Siapa Destry Damayanti? Ini Profil Pjs Gubernur Bank Indonesia
-
Hutan Gunung Soputan Terbakar, Delapan Mobil Damkar Dikerahkan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.