Pasokan Nikel Terganggu, Berkah Bagi NICL Capai Target Produksi di 2024
📅 Selasa, 04 Jun 2024, 15:25 WIB | Oleh: Vitto Budi
Doc: Istimewa
JAKARTA- Harga komoditas nikel pada kuartal I (Q1)-2024 mengalami penurunan yang signifikan karena oversupply di Indonesia. Berdasarkan data dari Ditjen Minerba, harga acuan nikel sejak periode September 2023 hingga Maret 2024 telah mengalami penurunan sebesar 23,08 persen.
Hal itu tentu berdampak negatif bagi emiten pertembangan nikel di Indonesia, tak terkecuali emiten produsen nikel yakni PT.PAM Mineral Tbk (NICL).
Emiten yang memiliki lahan konsesi pertambangan nikel yang telah mempunyai Izin Usaha Pertambangan (IUP) operasi di Desa Laroenai, Kecamatan Bungku, Pesisir, Sulawesi Tengah seluas 198 hektar (ha) itu, dan juga lahan konsesi pertambangan nikel seluas 576 ha di Desa Lameruru, Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara melalui entitas anak perseroan yaitu PT. Indrabakti Mustika (IBM), hanya mencatatkan laba bersih pada Q1-2024 sebesar 12,2 miliar rupiah.
Direktur Utama NICL, Rudy Tjanaka dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (4/6) mengatakan dari segi kinerja keuangan, pada Q1-2024, perseroan mencatatkan penjualan sebesar 116,7 miliar rupiah, atau turun 54,98 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023 sebesar 259,4 miliar rupiah.
Penurunan itu jelas Rudy, disebabkan oleh penurunan volume produksi nikel karena RKAB Perseroan (NICL) baru terbit pada bulan Mei 2024 (Q2). Namun, Perseroan berhasil melakukan efisiensi beban pokok pendapatan dengan meningkatkan marjin laba kotor pada menjadi 37,07 persen dari 36,92 persen pada Q1-2023.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seiring dengan menurunnya penjualan, laba usaha perseroan juga mengalami penurunan pada Q1-2024, dimana hanya tercatat sebesar 19,5 miliar rupiah atau menurun 74,85 persen dibandingkan dengan laba usaha periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 77,8 miliar rupiah.
Dengan demikian, papar Rudy, laba bersih perseroan hanya tercatat 12,2 miliar rupiah atau turun 78,92 persen dibandingkan sebelumnya. Penurunan tersebut disebabkan karena Persetujuan RKAB Entitas anak (IBM), yang baru disetujui pada akhir bulan Februari sehingga total penjualan yang tercatat pada Q1-2024 hanya merupakan penjualan selama bulan Maret.
Dari sisi neraca tambahnya, perseroan mencatatkan total aset pada Q1-2024 sebesar 881,7 miliar rupiah atau tumbuh signifikan dibandingkan dengan total aset pada Q1-2023 atau periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 692,1 miliar rupiah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sedangkan, total hutang tercatat sebesar 123,9 miliar rupiah atau tidak berubah signifikan dari periode sebelumnya sebesar 119,9 miliar rup[ah. Sementara, untuk total ekuitas perseroan mengalami peningkatan 572,1 miliar rupiah menjadi 757,7 miliar rupiah karena peningkatan saldo laba perseroan.
Sebagai informasi, perseroan memiliki lahan konsesi pertambangan nikel yang berlokasi di Desa Buleleng, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali. Lahan tersebut merupakan lahan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi produksi seluas 198 hektar dengan area tertambang seluas 47 hektar. Cadangan terkira daerah IUP Perseroan sebesar 3,7 juta ton dengan kadar Ni sebesar 1,51 persen.
Untuk Entitas anak (PT IBM), memiliki lahan konsesi pertambangan nikel yang berlokasi kecamatan Langgikima, kabupaten Konawe Utara, provinsi Sulawesi Tenggara. Lahan tersebut merupakan lahan IUP operasi produksi seluas 576 hektar dengan area tertambang seluas 60,72 hektar, dimana cadangan terkira dan terbukti sebesar 9,42 juta ton dengan kadar Ni sebesar 1,30 persen.
Produksi Terganggu
Lebih lanjut Rudy memaparkan bahwa pada Q2-2024 ini, situasi geopolitik yang saat ini berkembang semakin menantang. Diantaranya, sanksi AS dan Inggris terhadap Russia yang meluas terhadap ekspor bahan mentah dan larangan penjualan di London Metal Exchange (LME) dan Chicago Mercantile Exchange (CME).
Selain itu, insiden di Kaledonia Baru yang mempengaruhi operasional perusahaan pertambangan nikel yaitu terganggunya aktivitas produksi tambang dan beberapa pertambangan nikel di Australia mengalami gangguan pasokan akibat faktor biaya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!