Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Gunung Ibu Alami 27.371 Kali Gempa dalam Sebulan

📅 Senin, 03 Jun 2024, 12:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Gunung Ibu Alami 27.371 Kali Gempa dalam Sebulan Doc: ANTARA/HO-PVMBG
Ket. Arsip foto - Kolom abu vulkanik yang terbentuk akibat aktivitas erupsi Gunung Ibu di Maluku Utara, Rabu (15/5/2024).

JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat Gunung Ibu yang berada di Pulau Halmahera, Maluku Utara mengalami 27.371 kali gempa dalam kurun waktu sebulan terhitung sejak 1 Mei hingga 1 Juni 2024.
Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid mengatakan aktivitas vulkanik Gunung Ibu masih tinggi dan status saat masih masih tetap pada level IV atau awas.

"Kubah lava telah melampaui dinding kawah, sehingga mengakibatkan terjadi guguran lava ke arah utara dan barat laut," ujarnya di Jakarta, Senin (3/6).

Pada 1 Mei hingga 1 Juni 2024, Badan Geologi mencatat ada sebanyak 65 kali gempa letusan di Gunung Ibu, 14 kali gempa guguran, 4.637 kali gempa hembusan, 235 kali gempa harmonik.

Kemudian tercatat pula ada sebanyak 15 kali gempa tornillo, 21.381 kali gempa vulkanik dangkal, 648 kali gempa vulkanik dalam, 12 kali gempa tektonik lokal, 363 kali gempa tektonik jauh, dan 1 kali gempa terasa di Gunung Ibu.

Selama periode tersebut Badan Geologi juga merekam kemunculan 12 erupsi dengan tinggi awan abu vulkanik berkisar antara 1.000 sampai 6.000 meter di atas puncak. Kolom abu itu berwarna kelabu dengan intensitas tebal berdurasi 200 sampai 552 detik.

Pada beberapa kejadian erupsi terdengar suara dentuman serta gemuruh hingga ke pos pengamatan Gunung Ibu di Desa Gam Ici, Kecamatan Ibu. Letusan itu juga disertai lontaran lava pijar yang mencapai radius 1,5 kilometer dari bibir kawah.

Gunung Ibu merupakan gunung api tipe strato dan memiliki ketinggian puncak 1.340 meter di atas permukaan laut. Secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara.

Lebih lanjut Wahid mengungkapkan bahwa letusan Gunung Ibu tercatat sejak tahun 1911 dan mulai tahun 1998 muncul sumbatan lava yang kemudian tumbuh menjadi kubah lava.

Menurutnya, kubah lava terus tumbuh seiring terjadinya erupsi-erupsi dengan intensitas lemah hingga sedang.

Sejak tahun 2020 sampai 2023, frekuensi jumlah letusan Gunung Ibu semakin berkurang setiap hari, namun kolom letusan cenderung bertambah tinggi.

"Kondisi itu berhubungan dengan meningkatnya gempa-gempa vulkanik dalam dan gempa vulkanik dangkal," pungkas Wafid.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.