PBB Bersiap Perang Melawan Pembajakan Hayati
📅 Senin, 13 Mei 2024, 09:54 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Pablo Cozzaglio
JENEWA - Perampasan pengetahuan tradisional seputar sumber daya genetik jadi sorotan di PBB, dalam pembicaraan dua minggu yang dibuka pada hari Senin (13/5) untuk mengakhiri pembajakan biologis.
Setelah lebih dari 20 tahun melakukan negosiasi, Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WHA) yang berada di bawah naungan PBB berharap dapat mencapai kesepakatan yang akan melindungi pengetahuan tersebut dari eksploitasi dengan menegakkan transparansi yang lebih besar dalam sistem paten.
"Ini adalah momen bersejarah," kata Ketua WIPO Daren Tang, ketika lebih dari 190 negara anggotanya berkumpul di markas besar di Jenewa untuk melakukan pembicaraan yang berlangsung hingga 24 Mei.
"Ini tentang memerangi pembajakan hayati, artinya penggunaan pengetahuan tradisional atau sumber daya genetik tanpa persetujuan dari pihak yang memilikinya dan tanpa mereka dapat mengambil manfaat darinya," kata Christophe Bigot, yang memimpin delegasi Prancis.
Meskipun sumber daya genetik alami - seperti yang ditemukan pada tanaman obat, tanaman pertanian, dan ras hewan - tidak dapat secara langsung dilindungi sebagai hak milik internasional, penemuan yang dikembangkan dengan menggunakan sumber daya tersebut dapat dipatenkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sumber daya ini semakin banyak digunakan oleh perusahaan dalam segala hal mulai dari kosmetik hingga benih, obat-obatan, bioteknologi, dan suplemen makanan.
Organisasi non-pemerintah mengutip kasus tanaman maca dari Peru, hoodia dari Afrika Selatan, dan nimba dari India.
Mencari Konsensus
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski sulit, ada kemenangan yang diraih, seperti halnya Mimba. Pada tahun 1995, khasiat pohon yang digunakan di India selama ribuan tahun dalam bidang pertanian, obat-obatan dan kosmetik ini menjadi subyek serangkaian paten yang diajukan khususnya oleh raksasa kimia AS, WR Grace.
Setelah 10 tahun berjuang, Kantor Paten Eropa menarik patennya untuk pertama kalinya atas dasar "pembajakan biologis".
Rancangan perjanjian WIPO menetapkan bahwa pemohon paten akan diminta untuk mengungkapkan dari negara mana sumber daya genetik dalam suatu penemuan berasal, dan masyarakat adat yang memberikan pengetahuan tradisional terkait.
Para penentang perjanjian ini khawatir hal itu akan menghambat inovasi.
Namun para pendukungnya mengatakan persyaratan pengungkapan tambahan akan meningkatkan kepastian hukum, transparansi dan efisiensi dalam sistem paten.
Mereka mengatakan hal ini akan "membantu memastikan bahwa pengetahuan dan sumber daya tersebut digunakan dengan izin dari negara dan/atau komunitas asal mereka, sehingga memungkinkan mereka mendapatkan manfaat dari penemuan yang dihasilkan", menurut Wend Wendland, direktur dari Divisi pengetahuan tradisional WIPO.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!