Semen Merah Putih Produksi Beton Rendah Emisi Karbon
📅 Kamis, 09 Mei 2024, 21:00 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: istimewa
JAKARTA - Industri semen merupakan salah penghasil karbon terbesar, sehingga perlu melakukan langkah dekarbonasi. MenurutChatham House secaa glonal sektor ini menyumbang sebesar 8 persen emisi karbon dioksida (CO2) dunia.
Dalam usaha mengurangi jejak karbon (carbon footprint) PT Cemindo Gemilang Tbk melakukan beberapa inovasi hijau ataugreenovation.Untuk mengurangi jejak karbon perusahaan ini menciptakan teknologi injeksi karbon (carbon injection) dalam pembuatan semen melalui anak usaha PT Motive Mulia (Merah Putih Beton).
Commercial Director PT Cemindo Gemilang Tbk Surindro Kalbu Adi, menerangkan teknologi injeksi karbon dalam pembuatan semen yang dilakukan perusahaan ini bekerja dengan mendapatkan karbon dari udara. Selanjutnya karbon yang diserap disuntik atau di taman di dalam dalam produk beton.
"Carbon injection technology ini bagaimana cara kerjanya? Jadi karbon ditangkap dari udara, kami tembakkan pada saat kita produksi beton," kata dia dalam acara konferensi pers berjudul Kenal Lebih Dekat dengan Semen Merah Putih, di Jakarta Selasa (7/5).
Di dalam beton zat kimia tersebut tertanam selamanya di beton tersebut dan lama-kelamaan bereaksi menjadi kristal. Dengan teknologi lisensi dari Kanada dan bekerjasama dengan perusahaan Swedia berdampak pada meningkatnya kekuatan beton.
Sebaiknya Anda baca juga:
Teknologi injeksi karbon Semen Merah Putih ini tersaji dalam bentuk produk pracetak (precast) maupun campuran siap pakai (readymix). Kedua produk diklaim sebagai yang pertama di Indonesia, setelah perusahaan melakukan uji coba selama 6 bulan.
Surindro menuturkan, dengan teknologi injeksi karbon pengguna tidak perlu menggunakan banyak semen untuk memperkuat bangunan. Hal ini menguntungkan bukan hanya dari sisi biaya namun juga dari sisi lingkungan karena semakin sedikit penggunaan semen maka semakin sedikit emisi karbon yang dihasilkan.
"Jadi kalala perlu sebanyak 300 ton semen kita hanya perlu 250 ton. Jadi seme nya lebih sedikit sehingga jejak karbonnya juga semakin sedikit," kata dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengaku, masih sedikit pengguna dari teknologi injeksi karbon. Namun demikian pasarnya ada yaitu perusahaan yang peduli kepada lingkungan, yang perlu meningkatkan kredit karbon untuk mendapatkan berbagai insentif.
"Siapa penggunanya? Marketnya sangat sedikit tapinggakapa-apa. Karena dengan semakin sadarnya dunia dengan pemanasan global dan lain sebagainya akan banyak yang meminta produk-produk seperti ini," katanya.
Pengguna produk beton berteknologi injeksi carbon kata Surindro kebanyakan merupakan kontraktor asing, seperti Samsung dan Lotte. Mereka minta produk dengan spesifikasi yang rendah jejak karbon dengan tujuan ingin mendapatkan kredit karbon.
"Mereka sudah kontak ke kita. Karena ketika kontraktor ini mengoperasikan atau mengerjakan proyek di suatu negara dengan angka kredit karbon yang dimiliki mereka bisa mendapatkan keringanan pajak," terangnya.
"Nantinya akan banyak teknologi baru yang akan kami bawa. Tujuannya satu produk Semen Merah Putih akan semakin baik, kedua kualitas bangunan akan lebih baik lagi. Kami tidak akan pernah meluncurkan produk yangout of spec," janjinya.
Usaha mengurangi jejak karbon dilakukan dalam proses produksi beton. Di Merah Putih Beton semua peralatan pemuat beroda (wheel loader) telah menggunakan teknologi listrik. Hal ini untuk mengurangi penggunaan bahan bakar solar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!