Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

WHO Khawatir Tingginya Penggunaan Antibiotik pada Kasus Covid-19

📅 Sabtu, 04 Mei 2024, 00:03 WIB | Oleh:
WHO Khawatir Tingginya Penggunaan Antibiotik pada Kasus Covid-19 Doc: ISTIMEWA
Ket. World Health Organisation (WHO)

MANILA - Bukti-bukti terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organisation (WHO) menunjukkan penggunaan antibiotik secara ekstensif selama pandemi virus korona mungkin telah memperburuk penyebaran resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) secara diam-diam.

Menurut situs WHO, AMR mengacu pada kondisi ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit tidak lagi merespons obat antimikroba. Karena resistensi obat, obat antimikroba seperti antibiotik menjadi tidak efektif sehingga sulit atau tidak mungkin mengobati infeksi.

Dikutip dari The Straits Times, WHO melaporkan hanya 8 persen pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit memiliki koinfeksi bakteri yang memerlukan antibiotik, sekitar 75 persen dari mereka telah diberikan antibiotik untuk berjaga-jaga jika obat tersebut dapat membantu.

Penggunaan antibiotik berkisar antara 33 persen untuk pasien di wilayah Pasifik Barat, termasuk Filipina, hingga 83 persen di wilayah Mediterania Timur dan Afrika. Antara tahun 2020 dan 2022, jumlah resep dokter menurun seiring berjalannya waktu di Eropa dan Amerika, sementara jumlah resep meningkat di Afrika, berdasarkan data dari Platform Klinis Global WHO untuk Covid-19.

Data Klinis

Platform ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan data klinis anonim tingkat individu terstandar dari pasien yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19 dari Januari 2020 hingga Maret 2023.

Temuan ini dipresentasikan pada kongres global mengenai mikrobiologi klinis dan penyakit menular di Barcelona, Spanyol, yang berakhir pada 30 April.

Hal ini akan dibahas untuk meningkatkan resep dan penggunaan antibiotik di seluruh dunia menjelang pertemuan tingkat tinggi Majelis Umum PBB mengenai AMR pada bulan September.

Dalam sebuah pernyataan, kepala unit pengawasan, bukti dan penguatan laboratorium, divisi AMR WHO, Silvia Bertagnolio, mengatakan ketika seorang pasien membutuhkan antibiotik, manfaatnya sering kali lebih besar daripada risiko yang terkait dengan efek samping atau resistensi antibiotik.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Truk Trailer Alami Kecelaka...
Megapolitan
Para Kader Posyandu Tangera...

Bunga Tinggi The Fed Bikin Mental Rupiah Keder

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Ekonomi
Bunga Tinggi The Fed Bikin ...

Perluasan Pasar Bisa Melalui Mekanisme Digital

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perluasan Pasar Bisa Melalu...
Megapolitan
Pembangunan SDM, Sekolah-se...
Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp71.600/...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 8
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 8
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.