Gelombang Panas Tingkatkan Permintaan AC di Asia

Sabtu, 04 Mei 2024, 02:59 WIB

HONG KONG -Gelombang panas yang memecahkan rekor melanda sebagian wilayah Asia, telah membantu mendorong melonjaknya permintaan akan opsi alat pendingin, termasuk AC.

Saat ini unit pembuangan AC merupakan ciri umum lanskap perkotaan di banyak wilayah Asia, menempel seperti keong pada blok apartemen yang menjulang tinggi di Hong Kong atau terselip dalam formasi silang di antara jendela sebuah bangunan di Kamboja.

Ket. Foto: Instalasi AC | Seorang pria berjalan melewati mesin jual otomatis yang diatasnya terpasang instalasi pembuangan hawa AC di sebuah jalanan di Tokyo, Jepang, pada Kamis (2/5) lalu. Terjadinya gelombang panas di Asia saat ini dilaporkan telah meningkatkan permintaan atas alat penyejuk ruangan di kawasan ini. — Sumber: AFP/Richard A Brooks

Kesejukan embusan AC tersebut telah memberikan keringanan terhadap suhu yang telah mencapai rekor tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, dengan banyak negara di kawasan ini yang mencapai 40 derajat Celsius atau lebih tinggi.

Para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia akan menghasilkan gelombang panas yang lebih sering, lebih lama, dan lebih hebat.

Hanya 15 persen rumah di Asia tenggara yang memiliki AC, menurut laporan Badan Energi Internasional (IEA) pada tahun 2019. "Namun angka tersebut mengaburkan variasi yang sangat besar: mulai dari sekitar 80 persen pemasangan di Singapura dan Malaysia, hingga kurang dari 10 persen di Indonesia dan Vietnam," kata IEA.

Perkiraan menunjukkan bahwa suhu yang lebih tinggi dan upah yang lebih baik dapat menyebabkan jumlah unit AC di Asia Tenggara melonjak dari 40 juta pada tahun 2017 menjadi 300 juta pada tahun 2040.

Hal ini akan meningkatkan kapasitas listrik lokal, yang sudah mengalami kesulitan dalam kondisi saat ini.

Myanmar yang hanya memproduksi sekitar setengah dari kebutuhan listrik setiap hari, dan junta menyalahkan lemahnya pembangkit listrik tenaga air karena sedikitnya curah hujan, rendahnya hasil gas alam dan serangan pemberontak terhadap infrastruktur.

Permintaan listrik di Thailand mencapai rekor tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, karena masyarakat tinggal di dalam rumah untuk mencari tempat tinggal atau tempat bisnis yang memiliki pendingin ruangan.

Menurut IEA, AC sudah bertanggung jawab atas emisi sekitar satu miliar metrik ton karbon dioksida per tahun, dari total 37 miliar metrik ton karbon dioksida yang dihasilkan di seluruh dunia.

Namun, pilihan pendingin seperti AC adalah cara utama untuk melindungi kesehatan manusia, terutama bagi mereka yang paling rentan terhadap dampak panas ekstrem: anak-anak, orang lanjut usia, dan penyandang disabilitas tertentu.

Ikrar PBB

Dengan melonjaknya permintaan, puluhan negara tahun lalu menandatangani Ikrar Pendinginan Global PBB, sebuah komitmen untuk meningkatkan efisiensi AC dan mengurangi emisi dari segala bentuk pendinginan. Beberapa negara bahkan telah berusaha mengurangi dampak pendinginan selama bertahun-tahun.

Sejak tahun 2005, Jepang telah mendorong pekerja kantoran untuk melepaskan dasi dan jaket agar AC dapat dijaga pada suhu 28 derajat Celsius. Sedangkan Program tahunan "Cool Biz" menjadi penting ketika terjadi kekurangan listrik pada tahun 2011 setelah penutupan pembangkit listrik tenaga nuklir setelah bencana Fukushima. AFP/And

Redaktur: andes

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.