Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kabar Gembira, BRIN: Mata Pusaran Angin Kian Jauhi Nusa Tenggara

📅 Jumat, 05 Apr 2024, 00:12 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kabar Gembira, BRIN: Mata Pusaran Angin Kian Jauhi Nusa Tenggara Doc: ANTARA/HO-Dokumen Pribadi
Ket. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Eddy Hermawan.

Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan mata pusaran angin yang menyebabkan hujan lebat di Kepulauan Nusa Tenggara kini perlahan mulai melemah dan meninggalkan wilayah tersebut mendekati Australia.

"Selain uap air yang tidak begitu besar, angin yang mendukung juga tidak terlalu kencang," kata Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Eddy Hermawan saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Eddy mengatakan pusaran angin yang sekarang berada dekat Waingapu, Nusa Tenggara Timur, tidak akan memberikan ancaman berarti karena daerah itu diapit oleh pulau-pulau yang menjadi benteng pelindung dari amukan badai.

Tekanan atmosfer berada pada angka 1.005hectopascaldan terus melemah hingga akhirnya menjadi 983hectopascalpada 6 April 2024.

"Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) aman. Walaupun hujan deras, tidak menimbulkan kondisi ekstrem," kata Eddy.

Masyarakat diimbau untuk selalu menjaga kewaspadaan terutama jika muncul indikasi angin kuat dan semakin membesar.

Eddy mengatakan mulaimalam ini mata pusaran sudah tidak lagi mendekati kawasan Nusa Tenggara.

"Besok malam malah semakin menjauh. Mata pusaran sudah meninggalkan NTB dan NTT justru berada di perbatasan (Indonesia-Australia)," ucapnya.

Lebih lanjut Eddy menjelaskan bahwa pusaran angin yang berada dekat Waingapu, Nusa Tenggara Timur, terbentuk karena pertemuan massa uap air dari arah timur yang ingin menuju barat Indonesia dengan massa uap air yang datang dari Asia dan sebagian dari Lautan Pasifik.

"Massa uap air itu bertemu karena di sana menjadi pusat tekanan rendah sekitar 1.005hectopascal, sehingga membentuk pusaran," ujarnya.

Eddy menganalisa fenomena pusaran angin di Nusa Tenggara tidak berdampak terhadap peningkatan curah hujan di kawasan barat Indonesia, khususnya Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor, dan Bandung.

"Itu karena mekanismenya beda. Di Bandung dan Jakarta tidak sama dengan situasi yang terjadi di Waingapu, tidak terlihat pusat tekanan rendah seperti yang terjadi di NTT," tuturnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.