Drainase Tak Efektif Diduga Picu Longsor di Tol Bocimi

Jumat, 05 Apr 2024, 03:03 WIB

BRIN menduga sistem drainase yang tak mampu menampung limpasan air hujan menjadi pemicu longsor di Tol Bocimi di Kabupaten Sukabumi.

JAKARTA - Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari menduga sistem drainase yang tak sanggup menampung limpasan air hujan menjadi pemicu longsor di jalan Tol Bocimi KM 64-600 A di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Jabar).

Ket. Foto: Kondisi Jalan Tol Bocimi di KM 64-600 tepatnya di Tol Parungkuda arah Sukabumi, Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi, Jabar yang longsor dan membentuk lubang besar pada Rabu (3/4/2024). — Sumber: antara

"Saya menduga saluran air di sisi kiri badan jalan (sisi luar) tidak mencukupi atau tidak mampu untuk menampung limpasan air hujan dari badan jalan," ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Kamis (4/4).

Adrin menjelaskan limpasan air hujan meluber ke bagian lereng dan menyebabkan terjadi penjenuhan pada badan jalan. Jika sudah ada penjenuhan, kondisi itu bisa menyebabkan kekuatan tanah menjadi berkurang dan menimbulkan longsor.

Dia menuturkan faktor kedua adalah terbentuknya aliran air tanah di kaki lereng karena hujan yang cukup lebat. Faktor ini sering muncul, terutama pada lereng kupasan atau lereng timbunan.

Aliran air yang muncul tersebut bisa menyebabkan gangguan pada kaki lereng, sehingga memicu longsoran. "Dua faktor itu yang perlu dilihat terkait dengan sistem drainase yang ada di badan jalan. Apakah sistem drainase permukaan (selokan) atau drainase bawah permukaan (pipa-pipa pengalir atau gorong-gorong) sudah efektif didesain atau tidak?" kata Adrin.

Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa perkerasan konstruksi sangat penting, terutama jalan yang berada pada lokasi tanah timbunan. Metode perkerasan menggunakan geotekstil membantu supaya lereng menjadi kuat.

Adrin memandang longsor di Tol Bocimi tidak mungkin terjadi secara tiba-tiba, karena setiap kejadian selalu ada indikasi awal yang muncul sebelum peristiwa terjadi. "Saya tidak yakin itu tiba-tiba longsor, pasti ada indikasi retak-retak dulu, karena hujan sudah berlangsung cukup lama. Longsor tidak terjadi mendadak, pasti ada gejala-gejala terlebih dahulu, baik pada perkerasan ataupun lereng," ujarnya.

Pada 3 April 2024, sekitar pukul 20.00 WIB, gerakan tanah atau longsor terjadi di Tol Bocimi (akronim Bogor, Cianjur, dan Sukabumi) KM 64-600 tepatnya di Tol Parungkuda arah Sukabumi, Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Jalan berbayar yang belum genap setahun diresmikan itu menyebabkan satu mobil MPV berisi dua penumpang terperosok ke dalam lubang longsoran. Polres Sukabumi memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Selain itu, ada satu truk dan satu MPV yang mengalami kecelakaan tunggal akibat kaget dan berusaha menghindar ke arah kanan dan menabrak median jalan.

Kerusakan Berat

Sementara itu, Direktur Penegakan Hukum, Korps Lalu Lintas, Polri, Brigadir Jenderal Pol. Raden Slamet Santoso, mengatakan pihaknya telah menyiapkan jalur alternatif pasca longsor di jalur Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi). Hal tersebut dilakukan untuk pengamanan dan rehabilitasi jalur di titik longsor.

"Terkait dengan kejadian longsor yang di Bocimi, Bogor-Ciawi-Sukabumi itu kami sudah melaksanakan rekayasa lalu lintas terkait itu," ujar Raden, Kamis.

Dia menerangkan, untuk kendaraan dari arah Jakarta menuju Sukabumi itu nanti akan keluar melalui exit tol Cigombong dan masuk kembali di intran Parungkuda menuju ke arah Sukabumi. Begitu juga kendaraan dari arah Sukabumi menuju Jakarta akan keluar melalui exit Parungkuda, lalu masuk lagi Cigombong. ruf/S-2

Redaktur: Sriyono

Penulis: Muhamad Ma'rup

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.