• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Kekuatan Dunia Belanda ya...

Kekuatan Dunia Belanda yang Berumur Pendek

Selasa, 26 Mar 2024, 06:25 WIB

Pada abad ke-19, para sejarawan dan pendidik populer Belanda melihat de Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda sebagai salah satu faktor terpenting dalam peran Belanda sebagai kekuatan dunia yang berumur pendek. Oleh karenanya keberadaannya merupakan sesuatu yang patut dibanggakan karena tanpa VOC tidak akan pernah ada Hindia Belanda.

VOC didirikan pada 20 Maret 1602 dan berakhir pada 31 Desember 1799. Namun masyarakat Belanda akhirnya sadar akan dampak buruk kehadiran Belanda di Timur. Multatuli yang mengarang novel Max Havelaar (1860) ikut mendeskripsikannya.

Ket. Foto: Johan van Oldenbarnevelt. — Sumber: Rijksmuseum, Amsterdam/Public Domain

Gerakan sosialis yang berkembang di Belanda pada akhir abad kesembilan belas menarik kesejajaran antara eksploitasi kelas pekerja di Belanda dan eksploitasi masyarakat terjajah di dalam kerajaan. Pada dekade-dekade terakhir abad ke-20, ketidaknyamanan terhadap masa lalu Hindia berubah menjadi kebencian yang benar secara politis, sebuah sikap yang terkadang memalukan di Timur yang telah mengalami emansipasi.

"Bagaimanapun, ksatria moral dengan mudah jatuh ke pedangnya sendiri. VOC muncul di kancah Hindia tanpa diundang dan dengan tuntutan yang luas dan karena itu merupakan agressor," tulis Jan JB Kuiper, seorang pengarang buku tentang VOC di laman Historiek.

Para pejabat dan moralnya tidak lebih baik atau lebih buruk dibandingkan para pesaing dan mitra dagangnya. Kekurangan sumber daya manusia secara umum juga berdampak pada VOC, dan dengan kata-kata sederhana mereka menjauhkan diri dari hal ini dengan cepat menciptakan kesan kemunafikan murahan.

Di Belanda pada 2002 kembali terjadi perubahan, tahun HUT VOC (1602-2002) diiringi dengan banyak kegiatan dan publikasi. Pada 2006, Perdana Menteri Jan Pieter Balkenende memuji mentalitas VOC yang melampaui batas dan dinamisme di Dewan Perwakilan Rakyat.

Namun ia pun dikritik antara lain oleh pemimpin SP Jan Marijnissen. "Pada masa VOC terjadi banyak penggerebekan. Penjajahan oleh Belanda juga muncul pada saat itu, seperti halnya Indonesia. Kalau Perdana Menteri kita mengatakan ingin kembali ke masa VOC, rasanya aneh di luar negeri," kata dia.

"Pembahasan mengenai masa lalu VOC akan terus berlanjut selama beberapa waktu, sama halnya dengan topik sejarah penting lainnya. Anda juga dapat memandang VOC dengan cara yang lebih estetis, selain melalui kacamata moral yang terutama menyampaikan sesuatu tentang zaman Anda sebagai sebuah cerita besar dan lengkap dari masa lalu kita bersama," ujar Kuiper. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.