Vaksinasi Campak Harus Capai Target untuk Atasi Wabah
📅 Kamis, 21 Mar 2024, 00:01 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: FABRICE COFFRINI/AFP
LONDON - Para pejabat senior Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organisation (WHO), pada Selasa (19/3), mengatakan memberikan vaksinasi kepada anak-anak yang belum mendapat vaksinasi campak selama pandemi Covid-19 sangatlah penting. Hal ini harus dilakukan mengingat wabah campak meningkat di seluruh dunia.
"Lebih dari 50 negara telah mengalami wabah campak yang besar dan mengganggu pada tahun 2023, dua kali lebih banyak dibandingkan tahun 2022," kata Direktur Imunisasi WHO, Kate O'Brien, pada konferensi pers virtual.
Dikutip dari The Straits Times, campak adalah penyakit virus yang sangat menular yang menyebabkan gejala mirip flu dan ruam. Penyakit ini bisa berakibat fatal, tetapi dapat dicegah dengan dua dosis vaksin.
Menurut O'Brien, Covid-19 sangat mengganggu upaya vaksinasi rutin di seluruh dunia, dan sekitar 60 juta anak melewatkan dosisnya selama periode itu.
Dia mengatakan upaya mengejar ketertinggalan sangat penting. "Sekarang yang terjadi adalah perlombaan antara apakah upaya untuk mengejar ketertinggalan dapat terjadi dengan cukup cepat atau apakah wabah akan terus meluas," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada Senin, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat juga mendesak masyarakat untuk mendapatkan vaksinasi campak di tengah meningkatnya kasus campak secara global.
Para ahli WHO juga mendukung cara-cara baru dalam menggunakan vaksin yang ada untuk mengatasi wabah penyakit lainnya, termasuk penggunaan vaksin mpox yang dibuat oleh Bavarian Nordic untuk anak-anak berisiko di negara-negara Afrika.
Mereka merekomendasikan penggunaan vaksin hepatitis E untuk semua perempuan usia subur dalam konflik dan situasi darurat lainnya. Infeksi ini, yang sebagian besar ditularkan melalui air yang terkontaminasi, bisa sangat berbahaya bagi wanita hamil.
Sebaiknya Anda baca juga:
Didukung WHO
Vaksin tersebut, yang dikembangkan oleh Xiamen Innovax Biotech Tiongkok, belum banyak digunakan di luar Tiongkok, meskipun telah didukung oleh WHO untuk digunakan dalam wabah sejak tahun 2015.
"Fokus pada wabah adalah tanda bahwa keadaan normal mulai hidup dengan wabah itu agak mengkhawatirkan," kata Ketua komite ahli vaksin WHO, Hanna Nohynek.
Seperti dikutip dari Antara, praktisi kesehatan spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, dokter Ni Luh Putu Pitawati menjelaskan perbedaan gejala penyakit cacar monyet, cacar air, dan campak.
Dia menjelaskan cacar monyet, antara lain ditandai dengan gejala berupa demam dengan suhu tubuh lebih dari 38 derajat Celsius serta ruam setelah satu sampai tiga hari.
"Pada cacar air, demam hingga 39 derajat Celsius dengan ruam setelah nol sampai dua hari. Sedangkan campak, demam tinggi hingga 40,5 derajat Celsius dengan ruam setelah dua sampai empat hari," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!