- Home
-
- Luar Negeri
-
- Seruan untuk Aksi Protes W...
Seruan untuk Aksi Protes Warnai Hari Terakhir Pilpres Rusia
Minggu, 17 Mar 2024, 10:01 WIBMOSKOW - Kritikus Kremlin menyerukan protes besar-besaran di tempat pemungutan suara (TPS) pada hari terakhir pemilihan presiden Russia, Minggu (17/3). Pemilu tersebut diyakini akan memperkuat pemerintahan Vladimir Putin.
Pemungutan suara yang berlangsung selama tiga hari dirusak oleh meningkatnya pengeboman Ukraina yang fatal dan serangkaian serangan ke wilayah Russia oleh kelompok sabotase pro-Ukraina.
Aksi protes juga terjadi pada hari-hari pertama pemungutan suara, serentetan penangkapan warga Russia yang dituduh menuangkan pewarna ke dalam kotak suara atau melakukan pembakaran.
Sebelum kematiannya di penjara Arktik bulan lalu, pemimpin oposisi Alexei Navalny, yang menggalang demonstrasi massal anti-Putin, mendesak warga Russia untuk melakukan protes pada hari Minggu.
Istrinya, Yulia Navalnaya, mengulangi seruannya menjelang pemilu dan mengatakan para pengunjuk rasa harus hadir dalam jumlah besar pada saat yang sama untuk membanjiri TPS.
Dia menyerukan para pengunjuk rasa untuk merusak surat suara dengan menulis "Navalny" pada surat tersebut, atau memilih kandidat selain Putin.
Setiap perbedaan pendapat publik diRussia dihukum berat sejak dimulainya serangan Moskow di Ukraina pada 24 Februari 2022 dan terdapat peringatan berulang kali dari pihak berwenang terhadap protes pemilu.
Seorang warga Moskow berusia dua puluhan mengatakan kepada AFP, dia akan ambil bagian dalam aksi protes pada pukul 12.00 siang (09.00 GMT) di ibu kota, "hanya untuk melihat wajah-wajah muda yang mendukung di sekitar⦠merasakan dukungan di sekitar saya, dan melihat cahaya di dalam diri saya di terowongan gelap ini."
Pria yang menolak menyebutkan namanya karena alasan keamanan itu mengatakan berharap demonstrasi tersebut akan menunjukkan kepada pihak berwenang "bahwa ada orang-orang di negara ini yang menentang konflik... melawan rezim."
Periode Sulit
Putin yang berusia 71 tahun, mantan agen KGB, telah berkuasa sejak hari terakhir tahun 1999 dan akan memperluas kekuasaannya setidaknya hingga tahun 2030.
Jika dia menyelesaikan masa jabatan Kremlin lagi, dia akan berkuasa lebih lama dibandingkan pemimpin Russia mana pun sejak Catherine yang Agung pada abad ke-18.
Putin mencalonkan diri tanpa lawan yang nyata, setelah melarang dua kandidat yang menentang konflik di Ukraina.
Kremlin telah menjadikan pemilu ini sebagai kesempatan bagi warga Russia untuk menunjukkan bahwa mereka berada di balik serangan terhadap Ukraina, di mana pemungutan suara juga dilakukan di wilayah yang dikuasai Rusia.
Dalam pidato pra-pemilu pada hari Kamis, Putin mengatakanRussiasedang melalui "masa sulit".
"Kita harus terus bersatu dan percaya diri," katanya, seraya menggambarkan pemilu sebagai cara bagi warga Russia untuk menunjukkan "perasaan patriotik" mereka.
Pemungutan suara akan berakhir di Kaliningrad, zona waktu paling baratRusia, pada pukul 18.00 GMT dan exit poll diperkirakan akan diumumkan segera setelah itu.
Sebuah konser di Lapangan Merah diadakan pada hari Senin untuk memperingati 10 tahun sejak aneksasiRussiaatas semenanjung Krimea di Ukraina - sebuah acara yang juga diharapkan menjadi perayaan kemenangan Putin.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Pertemuan Presiden Prabowo dan Putin Bahas Kerja Sama Strategis
-
Pemprov DKI Berlakukan Verifikasi Ulang Tiket Mudik Gratis
-
Junta Ancam Tuntut Ratusan Orang atas Sabotase Pemilu
-
Mengenal Sistem Peluru Kendali S-500 Prometey aka Samoderzhets
-
Ratusan Honorer di Gowa Tak Penuhi Syarat Pengangkatan P3K Paruh Waktu
-
Indonesia–Pakistan Teken 7 MoU, Disaksikan Presiden Prabowo dan PM Sharif
-
BNPB: Kondisi Cuaca Baik Dukung Pengiriman Bantuan Lewat Udara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.