Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kebijakan Ekonomi Harus Nyata Berpihak ke UMKM

📅 Sabtu, 09 Mar 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kebijakan Ekonomi Harus Nyata Berpihak ke UMKM Doc: ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY
Ket. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

JAKARTA - Pemerintah mengakui Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan sektor kunci yang menggerakkan perekonomian nasional. Hal itu terlihat pada kontribusinya pada Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencapai 61 persen dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja.

Pakar kebijakan publik dari Universitas Brawijaya Malang, Andy Fefta Wijaya, mengatakan kontribusi UMKM seharusnya tidak hanya sebatas diberi pengakuan, tetapi lebih diprioritaskan dalam membuat kebijakan-kebijakan ekonomi. Kebijakan ekonomi harus menunjukkan keberpihakan yang nyata terhadap pelaku UMKM.

"Pemerintah harus pro kepada UMKM, karena mayoritas pekerja di sektor nonformal ada di UMKM. Paling tidak, kebijakan-kebijakannya jangan sampai menganggu cash flow pelaku-pelaku UMKM karena di saat krisis moneter, mereka mampu menjadi penopang perekonomian, sehingga perannya besar sekali.

Perhatian pemerintah yang terlalu terkonsentrasi ke infrastruktur besar malah melemahkan daya saing karena tidak memberi dampak langsung ke efisiensi produk mereka, dan otomatis porsi anggaran tersedot ke pembangunan fisik yang dalam beberapa hal kurang tepat sasaran.

Apalagi, dari sisi demand, nampak lesu termasuk ekspor yang lemah, karena memang beberapa kebijakan pemerintah tidak berpihak pada produk UMKM yang punya orientasi ekspor.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Sunarso, mengungkapkan UMKM menjadi motor perekonomian Indonesia naik kelas. Dia mengungkapkan dalam kurun 1993-2019 Indonesia keluar dari low income country menjadi middle income country karena digerakkan oleh UMKM.

"Berbagai kajian menunjukkan kita bisa naik kelas ke negara penghasilan tinggi dengan pertumbuhan ekonomi 6 persen. Sudah ada model statistik, ternyata driver pertumbuhan itu dipengaruhi oleh ekonomi yang digerakkan UMKM," kata Sunarso dalam acara BRI Microfinance Outlook 2024 di Menara BRILiaN, Jakarta Selatan,

Kemudian, hal lain yang menentukan adalah kualitas sumber daya manusia terkait pendidikan, dan menciptakan nilai tambah melalui pertumbuhan manufaktur. Selain itu, bagaimana memutar kapital secara nasional.

"Inilah latar belakang kita mengambil tema tentang pertumbuhan yang inklusif, kata kunci tumbuh dan merata. Partisipasi masyarakat melalui inklusifitas," kata Sunarso.

Inklusifitas bisa diperoleh dengan menjangkau layanan perbankan di tengah masyarakat. Kajian tersebut juga direspons oleh BRI dengan berbagai strategi yang sesuai dengan fokus pembangunan nasional.

Berbunga Tinggi

Dalam kesempatan terpisah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan untuk UMKM di Indonesia sudah ada perhatian pemerintah yang cukup lama dijalankan yakni kredit usaha rakyat (KUR) dan beberapa skema kredit lainnya.

Namun demikian, kata dia, dalam konteks mekanisme pemberian kredit walaupun sumbernya dari pemerintah, debitur diharuskan memenuhi syarat-syarat minimal tertentu yang harus dipenuhi.

"Banyak sekali UMKM kadang gagal untuk memenuhi syarat itu sehingga tidak mendapatkan KUR. Di sisi lain, banyak UMKM yang tidak menyukai hal-hal yang sifatnya prosedural, sehingga dalam mendanai pembiayaan usahanya mereka mengakses ke lembaga keuangan lain yang prosesnya mudah, namun berbunga tinggi," kata Suhartoko.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Jepang akan Menaikan Biaya Visa Lima Kali Lipat Mulai 1 Juli

47 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Jepang akan Menaikan Biaya ...
Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.