Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

RI Harus Lebih Diversifikasi Pasar Ekspor dan Impor

📅 Selasa, 30 Jan 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
RI Harus Lebih Diversifikasi Pasar Ekspor dan Impor Doc: Sumber: China NBS - afp

» Kebergantungan pada impor bahan baku dari Tiongkok tidak bagus sehingga substitusi impor perlu dipercepat agar lebih efisien.

» Pertumbuhan PDB AS yang lebih tinggi dari perkiraan cenderung meningkatkan risiko kebijakan suku bunga "higher for longer"

JAKARTA - Pemerintah diminta terus memperluas hubungan dagang dengan banyak negara, bukan hanya bergantung pada negara-negara tertentu seperti Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Pentingnya memperluas mitra dagang tersebut agar Indonesia tidak mudah tertular dampak dari kondisi perekonomian di negara mitra tersebut.

Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga Surabaya, Imron Mawardi, di Surabaya, Senin (29/1), mengatakan Tiongkok memiliki hubungan dagang yang luas termasuk dengan negara-negara berkembang seperti Indonesia sehingga perlambatan yang terjadi di negara mitra akan memberi dampak.

"Salah satu sumber penularan risiko adalah hubungan perdagangan, sehingga jika sampai terjadi penurunan ekspor ke sana bisa menimbulkan tekanan ke Indonesia. Ini terjadi karena ekspor komoditas kita seperti batu bara, baja, kertas cukup besar ke Tiongkok," kata Imron.

Selain itu, yang perlu diwaspadai adalah potensi perlambatan karena proteksionisme dagang yang dapat meningkatkan risiko bagi Indonesia karena Tiongkok tentu akan mengalihkan ekspornya yang terhambat ke negara-negara berkembang. Dengan demikian, banjir produk Tiongkok pada akhirnya akan menekan devisa.

Diminta pada kesempatan terpisah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan Tiongkok dan AS merupakan negara-negara mitra dagang terbesar bagi Indonesia.

Perlambatan ekonomi Tiongkok dan juga AS pastinya akan berdampak pada perekonomian Indonesia terutama untuk industri manufaktur tertentu, seperti kosmetik, kimia, dan obat obatan karena banyak menggunakan input dari sana.

"Diperkirakan penurunan 1 persen ekonomi Tiongkok akan menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 0,39 persen," papar Suhartoko.

Oleh sebab itu, Indonesia tidak boleh tergantung pada satu negara saja. Diversifikasi tujuan ekspor dan asal impor harus diperluas.

Dalam jangka pendek mungkin agak sulit, namun dalam jangka panjang perlu direncanakan melalui program-program strategis pemerintah untuk kemandirian dan stabilitas perekonomian.

Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah mengakselerasi substitusi impor. Kebergantungan impor pada produk-produk dan bahan baku dari Tiongkok juga tidak bagus. "Substitusi barang impor perlu dipercepat agar lebih efisien," kata Suhartoko.

Lebih Baik

Ekonom senior, Chatib Basri, di sela-sela IIF's Anniversary Dialogue di Jakarta, Senin (29/1), memprediksi ekonomi AS dan Tiongkok pada tahun ini tidak akan mengalami resesi, namun perekonomian Tiongkok diperkirakan bakal melambat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.