Hilirisasi Komoditas Spirulina dan Porang Dipacu

Senin, 29 Jan 2024, 09:09 WIB

JAKARTA - Kebijakan hilirisasi di industri agro menjadi salah satu prioritas Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Beberapa komoditas yang dikembangkan melalui kebijakan tersebut meliputi spirulina (mikroalga) dan porang.

Kemenperin membina perusahaan-perusahaan yang melakukan hilirisasi dua komoditas tersebut, salah satunya melalui fasilitasi kerja sama dengan para stakeholder terkait.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

"Saat ini telah terdapat perusahaan yang berhasil memproduksi beberapa produk hilir berbasis Spirulina, meliputi superfood (suplemen dan kopi), superskin (masker wajah), dan supernature (pakan). Produk-produk yang telah dipasarkan tersebut memerlukan perluasan jaringan pasar, termasuk bekerjasama dengan industri pakan," ujar Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika di Jakarta, Sabtu (27/1).

Salah satu perusahaan pengolahan Spirulina yang dibina Kemenperin adalah PT Alga Bioteknologi yang berlokasi di Jawa Tengah. Saat ini, PT Alga Bioteknologi Indonesia berkerja sama dengan Laboratorium Teknologi Pangan Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang. Keduanya sedang mengembangkan produk biskuit berbahan baku Spirulina yang kaya protein sebagai nutrisi untuk tumbuh kembang bayi serta mencegah stunting.

"PT Alga Bioteknologi Indonesia mempunyai target untuk menguasai pasar Eropa dan masih mencoba target 10 persen pasar dalam negeri melalui skema kerja sama dengan beberapa lembaga pendidikan, seperti Universitas Diponegoro dan Universitas Setia Budi," lanjut Putu.

Sementara itu, perusahaan binaan Kemenperin yang melakukan hilirisasi porang adalah CV Tri Mitra Agro Semarang. Produk utama perusahaan ini, yakni porang berbentuk chip dan sudah diekspor ke beberapa negara, seperti Tiongkok dan Jepang.

Menurut Putu, Kemenperin mendukung upaya agar perusahaan mengembangkan produk lainnya, seperti tepung glukomanan yang saat ini masih dalam tahap pengujian untuk mendapatkan ukuran partikel yang lebih halus (120-150 mesh) dan kadar glukomanan sebesar 90 persen, dari kadar manan saat ini yaitu 70 persen.

Bentuk dukungan dari Kemenperin antara lain memfasilitasi kerja sama penelitian bersama IPB University, Bogor. "Ditjen Industri Agro Kemenperin dan IPB University terus melakukan penelitian dan pengujian lanjutan hingga mendapatkan mendapatkan hasil yang maksimal," katanya.

Kemenperin mendorong peningkatan penggunaan glukomanan dalam negeri, salah satunya melalui business matching antara industri tepung glukomanan dan industri pengguna dalam negeri. Salah satu poin penting dalam kegiatan ini adalah penyamaan spesifikasi tepung glukomanan yang dibutuhkan industri pengguna dalam negeri dengan produk hasil industri.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.