Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Oxfam: 5 Orang Terkaya di Dunia Gandakan Kekayaannya Sejak 2020

📅 Selasa, 16 Jan 2024, 13:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Oxfam: 5 Orang Terkaya di Dunia Gandakan Kekayaannya Sejak 2020 Doc: AFP/Olivia BUGAULT, Anibal MAIZ CACERES
Ket. Distribusi kekayaan global yang tidak merata.

DAVOS -Lima orang terkaya di dunia memiliki kekayaan lebih dari dua kali lipat sejak 2020, kata badan amal Oxfam pada Senin (15/1), menyerukan negara-negara untuk menolak pengaruh kelompok ultra-kaya terhadap kebijakan pajak.

Sebuah laporan Oxfam yang diterbitkan di Forum Ekonomi Dunia di Davos minggu ini, mengatakan kekayaan kelompok elite global meningkat dari 405 miliar dollar AS pada 2020 menjadi 869 miliar dollar AS pada tahun lalu.

Namun sejak 2020, hampir lima miliar orang di seluruh dunia menjadi semakin miskin, kata Oxfam.

Para miliarder saat ini memiliki kekayaan sebesar 3,3 triliun dollar AS dibandingkan tahun 2020, meskipun banyak krisis yang menghancurkan perekonomian dunia sejak dekade ini dimulai, termasuk pandemi Covid.

"Kita tidak bisa melanjutkan tingkat ketidaksetaraan yang parah ini," kata Amitabh Behar, direktur sementaraOxfamInternational, kepada AFP.

Dia mengatakan hal itu menunjukkan bahwa "kapitalisme melayani orang-orang super kaya".

Dengan semakin banyaknya kekayaan orang-orang terkaya di dunia, ia meramalkan dalam satu dekade dunia akan memiliki "triliuner" pertama.

Laporan tahunan Oxfam mengenai kesenjangan di seluruh dunia biasanya dirilis tepat sebelum forum Davos dibuka pada Senin di resor Alpen Swiss dengan nama yang sama.

Badan amal ini menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya kesenjangan global, dimana individu dan perusahaan terkaya tidak hanya mengumpulkan kekayaan yang lebih besar berkat melonjaknya harga saham, namun juga kekuasaan yang jauh lebih besar.

Kekuatan Korporasi Mendorong Kesenjangan

"Kekuasaan perusahaan digunakan untuk mendorong kesenjangan - dengan menekan pekerja dan memperkaya pemegang saham kaya, menghindari pajak dan memprivatisasi negara," kataOxfam.

Mereka menuduh perusahaan-perusahaan mendorong "ketimpangan dengan melakukan perang terhadap perpajakan yang berkelanjutan dan sangat efektif", dengan konsekuensi yang luas.

Oxfam mengatakan negara-negara menyerahkan kekuasaan kepada monopoli, sehingga memungkinkan perusahaan untuk mempengaruhi upah yang diterima masyarakat, harga makanan, dan obat-obatan yang dapat diakses oleh individu.

"Di seluruh dunia, sektor swasta tanpa henti mendorong tarif yang lebih rendah, lebih banyak celah, kurang transparan, dan langkah-langkah lain yang bertujuan untuk memungkinkan perusahaan berkontribusi sesedikit mungkin ke kas negara," tambah Oxfam.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Laga Generasi Baru Menuju F...

Tim Piala Dunia, Mampukan Brasil Juara Keenam Kalinya?

25 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Mampukan B...
Nasional
Dongkrak Kedatangan Turis, ...
Rona
Sering Melotot Belum Tentu ...
Daerah
RSUD Prambanan Ada Bau-bau ...
Daerah
Siswa Jalani Ujian Kenaikan...

Antisipasi Kemarau, Masa Tanam Dipercepat

48 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Antisipasi Kemarau, Masa Ta...
Daerah
Cukup Bagus Hasil Penanaman...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.