Target Pertumbuhan Ekonomi Sulit Dicapai

Sabtu, 30 Des 2023, 00:04 WIB

» Pengendalian inflasi tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya yang merujuk pada kenaikan harga beras, minyak goreng, dan cabai.

» Dengan konsumsi sebagai basis utama pertumbuhan maka serapan tenaga kerja dalam setiap persen pertumbuhan terus mengalami penurunan.

Ket. Foto: Pertumbuhan Ekonomi — Sumber: ISTIMEWA

JAKARTA - Di penghujung tahun, target pertumbuhan ekonomi 2023 yang ditetapkan pemerintah 5,3 persen dinilai sulit untuk dicapai. Hal itu karena pertumbuhan sangat bergantung pada konsumsi, sedangkan daya beli masyarakat mulai turun di akhir tahun yang terlihat pada tergerusnya tabungan masyarakat.

Ekonom Celios, Nailul Huda, mengatakan pekerjaan rumah adalah mencapai target yang sudah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023. Jika melihat realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan III sebesar 4,94 persen maka cukup sulit mencapai 5,3 persen sepanjang tahun, karena rerata selama tiga triwulan baru 5,05 persen.

Dengan pencapaian itu maka pada triwulan IV-2023 ekonomi harus tumbuh 5,25 persen untuk mencapai target 5,3 persen.

"Momentum Tahun Baru nampaknya bisa jadi menggenjot konsumsi, namun apa daya konsumsi cukup melambat karena kenaikan inflasi dalam dua bulan terakhir. Saya rasa konsumsi akan tertahan di situ," kata Huda.

Satu-satunya yang bisa mendorong pertumbuhan adalah belanja pemerintah yang biasanya meningkat relatif tajam di triwulan terakhir. Namun, kontribusi yang kecil ke produk domestik bruto (PDB) bisa membuat dampaknya terbatas.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB. Suhartoko, mengatakan tahun 2023 bukan tahun yang spektakuler. Tahun 2023 yang penuh dengan tantangan dan risiko.

Dari eksternal, perang Russia-Ukraina telah mengganggu rantai pasok energi dan makanan sehingga berkontribusi pada peningkatan inflasi.

Kondisi sosial ekonomi domestik maupun global tahun 2023 paling tidak menjadi bahan refleksi untuk melakukan aksi pada 2024, terutama strategi mendorong konsumsi dan investasi.

Dihubungi dalam kesempatan terpisah, pakar ekonomi dari Universitas Airlangga, Imron Mawardi, mengatakan meskipun sempat didera inflasi, secara umum kondisi perekonomian tahun ini masih terjaga.

"Memang kita sempat merasakan inflasi, termasuk konflik Ukraina yang menyebabkan harga minyak naik dan sudah turun lagi, dan sekarang ada gejolak di Palestina. Namun, inflasi masih sesuai dengan target pemerintah, yaitu tiga persen plus minus satu, jadi masih di kisaran itu," kata Imron.

Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi, sempat melandai, lalu pada kuartal ketiga 4,9 persen. Dia pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini akan berakhir di kisaran 5 persen.

Harga Beras dan Cabai

Dari Yogyakarta, pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf, mengatakan catatan ekonomi 2023 adalah makin besarnya peran konsumsi rumah tangga bagi pertumbuhan. Padahal, pengendalian inflasi pemerintah tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya. Hal itu merujuk pada kenaikan harga sejumlah komoditas pokok, seperti beras, minyak goreng, dan cabai.

"Catatan penting lainnya adalah mayoritas barang konsumsi disuport dari impor termasuk impor beras. Begitu juga dengan gadget dan barang elektronik, otomotif, di mana spending masyarakat besar di sana juga didominasi impor. TikTok Shop memang sempat ditutup, tapi sekarang buka lagi, hanya di masalah perizinan belum masuk ke barang yang dijual itu masih mayoritas impor sampai sekarang," papar Maruf.

Dengan konsumsi sebagai basis utama pertumbuhan maka bisa dipastikan bahwa serapan tenaga kerja dalam setiap persen pertumbuhan masih terus mengalami penurunan alias terjadi deindustrialisasi.

"Jadi, kalau mengandalkan konsumsi sementara serapan lapangan kerja tidak bagus, daya beli turun, kita akan mentok di angka 5 persen. Susah naik lagi," kata Maruf.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Kucuran Beras Capai 1,65 Juta Ton, Pemerintah Optimistis Rem Harga Beras di Puncak El Nino

BPBD Cilacap Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Kekeringan Meteorologis

Menlu Tiongkok Wang Yi Temui Ketua DEN RI Luhut Panjaitan Bahas Investasi di Indonesia

Ratusan Rumah Adat Sade Ludes Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus Pulihkan Korban

Korea Utara Tuding Rencana Perluasan Anggaran Pertahanan Jepang Sebagai 'Persiapan Perang'

Brentford Kalahkan Tottenham Hotspur dengan Skor Telak 3-0

Pemprov NTT Percepat Perbaikan Infrastruktur Terdampak Gempa M7,7

Pemerintah Kota Batam Siapkan Subpenyalur BBM Nelayan di Pulau Rempang

Permudah Akses BBM Subsidi, Pemkot Batam Siap Bangun SPBU untuk Nelayan di Pulau Rempang

Harga Daging Ayam Ras di Dua Kabupaten di Riau di Atas Rp40.000/Kg

Film "The Odyssey" Laris di Korea Selatan, Lampaui 6 Juta Penonton

Balas Trump, Iran Peringatkan Negara yang Gabung dengan Sanksi AS Dianggap 'Musuh'

BMKG Prakirakan Sebagian Besar Wilayah RI Diprakirakan Cerah Berawan pada Minggu

Shopee Gandakan Donasi, Perkuat Gotong Royong Digital untuk Pemulihan Paska Gempa NTT

PT KAI Menilai Sejumlah Kegiatan di Purwokerto Tingkatkan Mobilitas Masyarakat

Lampaui Target Nasional, Banten Jadi Contoh CKG-TBC

Tidak Hanya Jadi Ajang Olahraga, Purwokerto City Run 2026 Kenalkan Budaya Lokal

KemenPU Tangani 1.229 Titik Kekeringan: 41 Ribu Hektar Sawah & 616 Ribu Jiwa Terbantu

Kebakaran Rumah di Kebayoran Baru, Sebanyak 81 Personel Dikerahkan

Gempa M5,9 Mengguncang Jepang Bagian Timur termasuk Tokyo, Layanan Kereta Api Terganggu

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.