Terendah se-Jawa, Inflasi Jakarta September Terkendali
Jumat, 02 Okt 2026, 19:32 WIBJAKARTA â Inflasi DKI Jakarta pada September 2026 tetap terkendali dan menjadi yang terendah di Pulau Jawa. Capaian ini di bawah inflasi nasional baik secara bulanan maupun tahunan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, mencatat inflasi Jakarta sebesar 0,13% (mtm) pada September 2026. Angka ini melambat dibanding bulan sebelumnya 0,15% (mtm) dan jauh lebih rendah dari inflasi nasional 0,30% (mtm).
"Secara tahunan, inflasi DKI Jakarta tercatat sebesar 2,71% (yoy), terendah di Pulau Jawa dan di bawah inflasi nasional yang sebesar 3,28% (yoy)," ujar Iwan di Jakarta, Jumat (2/10)
Menurut Iwan, penyumbang utama inflasi Jakarta bulan ini adalah kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mengalami inflasi 0,46% (mtm) dengan andil 0,08%. Tekanan terutama berasal dari tiga komoditas, yakni daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Kenaikan harga daging ayam ras dipicu naiknya harga pakan ternak dan Day Old Chick (DOC). Sementara cabai rawit melambung akibat kemarau panjang yang menurunkan produksi di sentra pemasok Jakarta seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DIY. Harga beras juga naik karena tingginya harga gabah dan berkurangnya pasokan akibat kekeringan.
Meski demikian, tekanan inflasi tertahan berkat peningkatan pasokan bawang merah dan tomat yang sedang panen di sejumlah daerah sentra.
Kelompok Kesehatan juga turut menyumbang inflasi sebesar 0,63% (mtm) pada September 2026, meningkat dari bulan sebelumnya 0,28% (mtm) dengan andil 0,02%. Iwan menyebut kenaikan ini dipicu fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau yang meningkatkan permintaan masker karena kekhawatiran abu vulkanik.
Di sisi lain, kelompok Transportasi justru mengalami deflasi 0,10% (mtm), melanjutkan deflasi bulan sebelumnya 0,45% (mtm). Penurunan terutama dari tarif angkutan udara seiring low season perjalanan, meski ada penyesuaian fuel surcharge pesawat domestik dari 30% menjadi 40% dari Tarif Batas Atas dan kenaikan harga BBM nonsubsidi di awal September.
Iwan menegaskan, TPID Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K sepanjang September 2026. Untuk keterjangkauan harga dilakukan lewat Program Pangan Bersubsidi, pasar murah BUMD Pangan, dan penyaluran beras SPHP oleh Bulog Kanwil Jakarta-Banten.
Untuk ketersediaan pasokan ditempuh lewat pengembangan urban farming melalui Akademi Urban Farming dan bimtek pengolahan pangan. Kelancaran distribusi diperkuat lewat optimalisasi distribusi BUMD Pangan melalui truk keliling. Sementara komunikasi efektif diperkuat melalui forum koordinasi dan capacity building enumerator Informasi Pangan Jakarta (IPJ).
Ke depan, kata Iwan, strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) akan terus diperkuat untuk memitigasi risiko global berupa ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi harga energi dan komoditas, serta risiko domestik berupa cuaca kering puncak kemarau dan potensi El Nino yang dapat mengganggu produksi pangan.
"Melalui sinergi yang semakin erat antara TPID DKI Jakarta dan seluruh pemangku kepentingan, inflasi DKI Jakarta diharapkan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional 2,5±1% pada tahun 2026," pungkas Iwan.
- Bank Indonesia (BI)
- Inflasi
- Harga Pangan
- ekonomi jakarta
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Soal Jalan Rusak di Garut, KDM Panggil Bupati ke Bandung, Minta Anggaran Perbaikan Jalan Dirombak Total
-
Penonton Persib Dilarang ke Stadion Utama GBK, Kiper Muda Maung Bandung Siap Diturunkan
-
Intervensi Spot Dipangkas, BI Sisakan 30 Persen untuk Jaga Rupiah
-
Meksiko Ogah Dijadikan Bagian dari Kampanye Pemilu AS
-
Pemkab Mimika Sediakan Tempat Parkir TJU untuk Warga
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.