Ilmuwan Ciptakan AI dari Sel Otak Manusia yang Hidup

Selasa, 12 Des 2023, 13:56 WIB

BLOOMINGTON - Para ilmuwan baru-baru ini telah mengembangkan sistem biokomputer yang terdiri dari sel-sel otak hidup, yang dapat belajar mengenali suara satu individu dari ratusan klip suara

Dilansir oleh New Scientist, sel otak manusia yang dihubungkan ke komputer telah digunakan untuk melakukan bentuk pengenalan suara yang sangat dasar. Harapannya adalah sistem seperti itu akan menggunakan energi yang jauh lebih sedikit untuk tugas-tugas AI dibandingkan chip silikon.

Ket. Foto: Organoid otak tumbuh di cawan Petri. Dibutuhkan dua atau tiga bulan untuk menumbuhkan organoid, yang lebarnya hanya beberapa milimeter dan terdiri dari 100 juta sel saraf. — Sumber: Istimewa

"Ini hanyalah bukti konsep yang menunjukkan bahwa kita mampu melakukan pekerjaan ini," kata Feng Guo dari Indiana University Bloomington.

"Perjalanan kita masih panjang."

"Organoid otak adalah gumpalan sel saraf yang terbentuk ketika sel induk ditumbuhkan dalam kondisi tertentu. Mereka seperti otak kecil," kata Guo.

Dibutuhkan dua atau tiga bulan untuk menumbuhkan organoid, yang lebarnya hanya beberapa milimeter dan terdiri dari 100 juta sel saraf. Otak manusia mengandung sekitar 100 miliar sel saraf.

Organoid tersebut kemudian ditempatkan di atas susunan mikroelektroda, yang digunakan untuk mengirim sinyal listrik ke organoid dan untuk mendeteksi kapan sel saraf merespons. Tim menyebut sistemnya "Brainoware".

New Scientist melaporkan pada bulan Maret bahwa tim Guo telah menggunakan sistem ini untuk mencoba memecahkan persamaan yang dikenal sebagai peta Hénon.

Untuk tugas pengenalan ucapan, organoid harus belajar mengenali suara satu individu dari 240 klip audio delapan orang yang mengucapkan bunyi vokal Jepang. Klip dikirim ke organoid sebagai rangkaian sinyal yang disusun dalam pola spasial.

Respons awal organoid memiliki akurasi sekitar 30 hingga 40 persen. Setelah sesi latihan selama dua hari, akurasinya meningkat menjadi 70 hingga 80 persen.

"Kami menyebutnya pembelajaran adaptif. Jika organoid terkena obat yang menghentikan pembentukan koneksi baru antar sel saraf, tidak ada perbaikan," kata Guo.

Pelatihan ini hanya melibatkan pengulangan klip audio, dan tidak ada umpan balik yang diberikan untuk memberi tahu organoid apakah itu benar atau salah. Hal inilah yang dalam penelitian AI dikenal sebagai pembelajaran tanpa pengawasan.

Menurut Guo, ada dua tantangan besar dengan AI konvensional. Salah satunya adalah konsumsi energinya yang tinggi. Yang lainnya adalah keterbatasan yang melekat pada chip silikon, seperti pemisahan informasi dan pemrosesan.

Tim Guo adalah salah satu dari beberapa klompok yang mengeksplorasi apakah biokomputasi menggunakan sel saraf hidup dapat membantu mengatasi tantangan ini. Misalnya, sebuah perusahaan bernama Cortical Labs di Australia telah mengajarkan sel-sel otak cara bermain Pong, ungkap New Scientist pada tahun 2021.

Titouan Parcollet dari Universitas Cambridge, yang bekerja di bidang pengenalan suara konvensional, tidak mengesampingkan peran biokomputasi dalam jangka panjang.

"Namun, mungkin salah juga jika kita berpikir bahwa kita memerlukan sesuatu seperti otak untuk mencapai apa yang sedang dilakukan pembelajaran mendalam," kata Parcollet.


"Model pembelajaran mendalam saat ini sebenarnya jauh lebih baik daripada otak mana pun dalam tugas-tugas spesifik dan bertarget," ujarnya.

Tugas Guo dan timnya sangat disederhanakan sehingga hanya mengidentifikasi siapa yang berbicara, bukan apa yang dibicarakan, katanya. "Hasilnya tidak terlalu menjanjikan dari sudut pandang pengenalan suara."

Bahkan jika kinerja Brainoware dapat ditingkatkan, masalah besar lainnya adalah organoid hanya dapat dipertahankan selama satu atau dua bulan. Timnya sedang berupaya memperluas ini.

"Jika kita ingin memanfaatkan kekuatan komputasi organoid untuk komputasi AI, kita benar-benar perlu mengatasi keterbatasan tersebut," katanya.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.