• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Tak Selalu Stunting Anak B...

Tak Selalu Stunting Anak Bertubuh Pendek Bisa Dipicu Faktor Hormon dan Genetik

Rabu, 22 Jul 2026, 17:28 WIB

JAKARTA – Tinggi badan anak yang berada di bawah rata-rata seusianya tidak selalu menunjukkan kondisi stunting. Sejumlah faktor lain, mulai dari keturunan, gangguan hormon, kelainan genetik, penyakit kronis, hingga kondisi sosial dan emosional, juga dapat memengaruhi pertumbuhan anak.

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.Endo(K), FAAP, FRCPI (Hon.), FIAP (Hon.), menegaskan pentingnya membedakan antara perawakan pendek dan stunting agar anak mendapatkan evaluasi serta penanganan yang sesuai.

Ket. Foto: Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.Endo(K), FAAP, FRCPI (Hon.), FIAP (Hon.) Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi. Ia mengungkapkan anak bertubuh pendek tak selalu mengalami stunting. Gangguan hormon, genetik, dan faktor lain juga berpengaruh. — Sumber: RSPI

"Tidak semua anak pendek itu stunting, tetapi semua anak stunting itu pendek. Orang tua yang khawatir dengan tinggi badan anaknya sebaiknya berkonsultasi ke dokter untuk evaluasi yang tepat, bukan berasumsi sendiri," ujar Prof. Aman melalui webinar yang berlangsung pada hari Rabu (22/7).

Data menunjukkan prevalensi stunting pada balita di Indonesia mencapai 19,8 persen pada 2024, menurun dibandingkan 21,5 persen pada 2023. Sementara itu, berdasarkan data 2018, sekitar 30,8 persen balita Indonesia tercatat memiliki perawakan pendek atau sangat pendek.

Stunting sendiri merupakan salah satu bentuk gangguan pertumbuhan yang berkaitan dengan kekurangan gizi kronis. Kondisi tersebut dapat berdampak pada perkembangan anak, termasuk berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif dan peningkatan risiko penyakit tidak menular pada masa mendatang.

Bank Dunia juga memperkirakan generasi mendatang Indonesia berisiko hanya mencapai 53 persen dari potensi produktivitas penuhnya apabila masalah stunting tidak ditangani secara optimal.

Namun, Prof. Aman mengingatkan bahwa tidak tepat jika setiap anak dengan tubuh pendek langsung dikategorikan mengalami stunting. Perawakan pendek dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk variasi normal seperti faktor keturunan, maupun masalah medis yang memerlukan penanganan.

"Semua anak stunting memang pendek, tetapi tidak semua anak pendek mengalami stunting," menjadi salah satu pesan utama yang perlu dipahami masyarakat.

Pertumbuhan Anak Dipengaruhi Banyak Faktor

Perawakan pendek secara medis dapat merujuk pada kondisi ketika tinggi badan anak berada di bawah variasi normal berdasarkan standar pertumbuhan yang digunakan. Penyebabnya beragam, mulai dari perawakan pendek keturunan hingga kekurangan hormon pertumbuhan, gangguan tiroid, malnutrisi kronis, penyakit kronis, serta kelainan tulang dan genetik.

Faktor genetik dan lingkungan sama-sama berperan dalam menentukan pertumbuhan anak. Tinggi badan orang tua dapat memberikan gambaran mengenai potensi pertumbuhan anak, tetapi faktor gizi, infeksi, kondisi kesehatan, serta keadaan sosial ekonomi juga dapat memengaruhi pencapaian potensi tersebut.

Pada kasus stunting, sejumlah faktor risiko yang perlu diperhatikan antara lain berat badan lahir rendah, tidak mendapatkan ASI eksklusif, infeksi berulang, sanitasi yang buruk, serta status gizi dan tingkat pendidikan ibu.

Gangguan pertumbuhan juga dapat berkaitan dengan kondisi hormonal dan genetik. Kekurangan hormon pertumbuhan, misalnya, termasuk kondisi yang relatif jarang dibandingkan stunting. Secara global, kondisi tersebut diperkirakan terjadi pada sekitar satu dari 4.000 hingga 10.000 kelahiran.

Sementara itu, Turner syndrome diperkirakan dialami oleh sekitar satu dari 1.500 hingga 2.000 anak perempuan di dunia. Riwayat bayi kecil masa kehamilan (KMK) juga dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pertumbuhan anak di kemudian hari.

Karena penyebabnya beragam, evaluasi terhadap anak dengan gangguan pertumbuhan tidak cukup hanya melihat aspek gizi. Dokter dapat mempertimbangkan riwayat pertumbuhan keluarga, kondisi hormonal, faktor genetik, hingga pemeriksaan kromosom apabila diperlukan.

Kurva Pertumbuhan Jadi Alat Deteksi Penting

Salah satu cara penting untuk memantau pertumbuhan anak adalah menggunakan kurva pertumbuhan yang sesuai. Kurva tersebut membantu tenaga kesehatan dan orang tua melihat perkembangan tinggi dan berat badan anak dari waktu ke waktu.

Menurut Prof. Aman, kondisi pertumbuhan anak tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan tinggi badan pada satu titik waktu. Kecepatan pertumbuhan, pola pertumbuhan dalam kurva, serta riwayat tinggi badan keluarga juga perlu diperhatikan.

Tanda yang perlu diwaspadai antara lain tinggi badan anak yang jauh di bawah standar seusianya, laju pertumbuhan yang melambat, atau garis pertumbuhan yang mengalami penurunan dan memotong beberapa pita persentil pada kurva.

Orang tua disarankan melakukan pengukuran tinggi dan berat badan anak secara berkala serta mencatatnya pada kurva pertumbuhan. Jika pertumbuhan anak terlihat melambat atau tinggi badannya jauh di bawah standar, konsultasi dengan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Pemeriksaan medis dapat mencakup evaluasi fisik, penilaian kurva pertumbuhan, riwayat kesehatan dan keluarga, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan hormon, hingga rontgen usia tulang. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan pemeriksaan genetik atau kromosom.

Penanganan Harus Sesuai Penyebab

Prof. Aman menuturkan, penanganan gangguan pertumbuhan tidak dapat disamaratakan. Terapi diberikan berdasarkan penyebab yang mendasarinya.

Pada anak dengan stunting akibat kekurangan gizi kronis, penanganan dapat berfokus pada perbaikan asupan gizi dan faktor penyebab lainnya. Sementara gangguan tiroid dapat ditangani dengan terapi hormon tiroid sesuai indikasi.

Adapun terapi hormon pertumbuhan hanya diberikan pada kondisi tertentu yang telah terbukti secara medis memenuhi indikasi. Terapi tersebut bukan solusi umum untuk semua anak yang memiliki tubuh pendek.

Deteksi dini menjadi penting karena beberapa gangguan pertumbuhan memiliki batas waktu penanganan. Pada gangguan hormonal tertentu, keterlambatan diagnosis dapat mengurangi peluang anak mencapai potensi tinggi badan akhir yang optimal karena masa pertumbuhan tulang memiliki batas.

Pada stunting yang tidak tertangani, dampaknya juga dapat berlangsung dalam jangka panjang dan berkaitan dengan perkembangan kognitif serta risiko penyakit tidak menular di kemudian hari.

Mitos Seputar Pertumbuhan Anak

Prof. Aman juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai berbagai mitos mengenai pertumbuhan anak. Salah satu anggapan yang perlu diluruskan adalah bahwa semua anak bertubuh pendek pasti mengalami stunting.

Selain itu, anggapan bahwa minum susu secara otomatis membuat anak menjadi lebih tinggi juga perlu dipahami secara lebih proporsional. Susu dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi, tetapi pertumbuhan anak dipengaruhi oleh berbagai faktor dan tidak hanya ditentukan oleh konsumsi satu jenis makanan atau minuman.

Mitos lain yang beredar adalah anggapan bahwa anak laki-laki akan tumbuh lebih tinggi setelah menjalani sunat. Pertumbuhan tinggi badan pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor genetik, nutrisi, kesehatan, hormon, dan berbagai faktor lainnya.

Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

Pemantauan pertumbuhan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. Upaya memastikan anak dapat tumbuh secara optimal membutuhkan kolaborasi antara sektor kesehatan, pendidikan, dan sosial.

Orang tua memiliki peran penting dengan melakukan pemantauan pertumbuhan secara rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan. Jika terdapat tanda pertumbuhan yang tidak sesuai, pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan agar penyebabnya dapat diketahui secara tepat.

Prof. Aman menekankan bahwa masalah pertumbuhan anak tidak dapat dilihat semata-mata sebagai persoalan gizi. Kondisi sosial ekonomi keluarga, lingkungan, serta faktor emosional juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan dan pertumbuhan anak.

Karena itu, pendekatan yang komprehensif diperlukan untuk memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Pesan utama bagi orang tua adalah tidak langsung menyimpulkan bahwa anak yang bertubuh pendek pasti mengalami kekurangan gizi atau stunting. Pemantauan menggunakan kurva pertumbuhan dan konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu menentukan apakah kondisi tersebut merupakan variasi normal atau membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Dengan deteksi dan penanganan sedini mungkin, berbagai gangguan pertumbuhan diharapkan dapat ditangani sesuai penyebabnya sehingga anak memiliki kesempatan lebih besar untuk mencapai potensi tumbuh kembangnya secara optimal.

  • Deteksi Dini
  • tengkes
  • Anak Indonesia
  • faktor genetik
  • stunting
  • kesehatan
  • gizi anak
  • Kesehatan Anak
  • RS Pondok Indah
  • hormon pertumbuhan
  • endokrinologi anak
  • Tumbuh Kembang Anak
  • Gangguan Pertumbuhan Anak
  • Anak Pendek
  • Kurva Pertumbuhan
  • Perawakan Pendek
  • Prof. Aman Bhakti Pulungan

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.