Impor Beras di Tengah Inflasi Makin Menekan Petani
📅 Kamis, 16 Nov 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiSemestinya, Bulog, papar Qomar, bisa memainkan peran sebagai stabilisator dengan menyerap hasil panen petani, tentu dengan harga yang menguntungkan petani. Namun, hal itu tidak terjadi.
Kalaupun Bulog menyerap hasil panen petani, dengan menggunakan patokan harga yang kemarin ditentukan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk penugasan ke Bulog sebesar 5.000 rupiah per kilogram untuk gabah kering panen (GKP) maka harga tersebut belum menguntungkan petani.
Di sisi produsen, petani mengalami keterbatasan karena tidak mempunyai cukup alat pengering dan gudang. Pada akhirnya, mereka tidak punya banyak pilihan, kecuali menjual dalam bentuk gabah kering panen (GKP), meskipun harganya murah. Hal itu demi mengejar bisa mulai menanam lagi di musim tanam kedua.
Pada kesempatan terpisah, Asisten Deputi Utusan Khusus Presiden (UKP), Ahmad Yakub, menjelaskan bahwa situasi saat ini adalah kemampuan Bulog untuk menyerap gabah/beras petani dibatasi oleh Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang sekarang di bawah harga riil di pasaran.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di tengah produksi dalam negeri yang tidak berlebih, bila Bulog memaksakan membeli gabah/beras petani akan berpotensi mengakibatkan kenaikan harga.
"Sementara kita tahu bahwa petani adalah juga net consumer agar petani gembira maka biarkan mereka menjual gabah dengan harga tinggi sementara pemerintah mesti memaksimalkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) agar harga terjangkau di petani terbawah," papar Yakub.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!