Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Musibah kebakaran di Makassar meningkat di musim kemarau

📅 Kamis, 02 Nov 2023, 23:45 WIB | Oleh:
Musibah kebakaran di Makassar meningkat di musim kemarau Doc: ANTARA FOTO/Hasrul Said
Ket. Petugas mengamati kebakaran yang melanda salah satu bangunan SMP Negeri 8 Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (30/10/2023).

Makassar, 02/11 (ANTARA) - Musibah kebakaran di Kota Makassar meningkatcukup tajam bahkan terjadi hampir tiap hari di masa kekeringan ekstrem hingga berdampak pada suplai listrik berkurang drastis dan harus dilakukan pemadaman bergilir setiap harinya yang diduga berimplikasi memicu korsleting saat listrik mulai dinyalakan.

"Memang semua bahan pada kering jadi mudah terbakar. Terjadinya kebakaran karena tiga unsur, pertama panas, kedua bahan yang mudah terbakar, ketiga oksigen di atas 15 persen. Di saat ini sangat berpotensi (terjadi kebakaran)," kata Kepala Dinas Kebakaran Makassar Muhammad Hasanuddin, Kamis.

Ketika ditanyakan apakah kini dapat dikategorikan darurat kebakaran, dia menampik hal itu sebab petugas selalu siap bekerja, karena itu sudah merupakan tugasnya.

"Kebakaran suatu musibah bukan unsur kesengajaan. Hampir semua daerah yang terkena dampak kemarau berkepanjangan (El Nino) mengalami hal demikian (kekeringan)," ujarnya.



Dari data Damkar Kota Makassar per 30 Oktober 2023, jumlah kasus kejadian sepanjang Januari-Oktober 2023 tercatat sebanyak 340 kejadian. Peristiwa kebakaran paling tinggi terjadi pada September sebanyak 85 kasus disusul Oktober 82 kasus, Agustus 54 kasus, Juni 19 kasus, selebihnya belasan kasus.

Penyebab kejadian didominasi dugaan arus pendek atau korsleting sebanyak 102 kasus, kebocoran tabung gas 11 kasus, kompor tujuh kasus, dan lilin dua kasus. Untuk kasus sampah dan ilalang yang terbakar sebanyak 154 kasus.

Dampaknya mengakibatkan sebanyak 167 unit rumah, 46 unit kios/toko, 27 unit industri dan 16 gudang, serta 11 unit kendaraan ludes terbakar. Jumlah korban terdampak sebanyak 568 jiwa, dengan 232 Kepala Keluarga dan 20 orang terluka dan luas areal terbakar 21.310 meter persegi dengan nilai kerugian materiil ditaksir senilai Rp19,1 miliar lebih.

Sebelumnya, Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto turut merespon kebijakan pemadaman bergilir oleh PLN di saat musim kekeringan hingga terjadi insiden kebakaran di SMP Negeri 8 diduga karena korsleting listrik pada kipas angin yang tidak dimatikan saat mati lampu dan baru menyala saat siswa dan guru tidak berada di sekolah setempat.

Dari informasi diperoleh dan rekaman CCTV merekam detik-detik kipas angin di sekolah itu menyala lalu muncul percikan api kemudian tidak beberapa lama api membesar dan membakar sekolah itu di Jalan Batua Raya Makassar.

"Saya kira jalan keluarnya adalah PLN harus punya tanggung jawab sosial. Kita tidak mengerti soal naik tegangan atau turun, siapa yang tahu. Kadang-kadang tegangan turun, barang-barang rusak. Pihak PLN mesti memberi pencerdasan kepada masyarakat kalau perlu bantu mendiagnosa kabel yang sudah rawan," katanya.

Untuk itu, pria akrab disapa Danny Pomanto itu menekankan agar pihak PLN harus berimbang, selain pemadaman bergilir diperlukan juga edukasi kepada masyarakat. Dan paling penting apa kompensasi didapatkan oleh kebijakan pemadaman listrik bergilir ini, jangan sampai masyarakat malah membayar lebih karena tegangan naik dan turun saat dinyalakan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
PBB Desak Perusahaan AI Tra...

Liga Arab Kukuhkan Nabil Fahmy sebagai Sekjen

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Luar Negeri
Pemimpin Korut Bertekad Per...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.