Menteri Pertanian Tidak Perlu Membuat Terobosan Sulit di Sisa Jabatan

Kamis, 26 Okt 2023, 00:00 WIB

JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, tidak perlu membuat terobosan-terobosan baru yang relatif sulit dicapai pada masa jabatan yang hanya satu tahun. Lebih baik memanfaatkan sisa waktu ini untuk membangun fondasi yang baik bagi pemerintahan ke depan.

"Pak Amran sebaiknya tidak berambisi membuat terobosan-terobosan baru yang relatif sulit dicapai. Lebih baik memanfaatkan sisa waktu setahun ini untuk membangun fondasi yang baik bagi pemerintahan ke depan," kata pengamat pertanian sekaligus pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, dalam keterangannya, di Jakarta, Rabu (25/10).

Ket. Foto: Menteri Perta­nian (Mentan), Amran Sulai­man — Sumber: antara

Seperti dikutip dari Antara, sejumlah hal yang direkomendasikan Khudori adalah memastikan lahan-lahan sawah yang eksisting bisa dioptimalkan, terutama dengan memastikan ketersediaan air. Lalu, ketersediaan sarana produksi lain, yaitu pupuk, bibit/benih, dan modal kerja.

"Pastikan dalam setahun ini untuk melayani petani dengan memudahkan mereka mendapatkan akses air, pupuk, benih/bibit, dan modal kerja. Langkah ini cepat hasilnya dan peluang keberhasilannya lebih besar ketimbang menggantungkan sejuta harapan kepada lahan-lahan cetakan/bukaan baru," ucapnya.

Petani Dapat Untung

Rekomendasi kedua, memastikan petani mendapatkan untung dari usaha taninya lewat kepastian harga. Ia berharap tidak ada lagi petani dan peternak yang menjerit atau bahkan membuang-buang produksi karena tidak ada yang membeli atau dibeli dengan harga murah.

"Selama ini, tanggung jawab ini selalu diabaikan. Yakinlah, kalau petani dijamin untung, mereka akan mengejar apa yang dibutuhkan untuk memproduksi produk yang baik. Apakah teknis budi daya, benih, pupuk, dan lainnya. Petani itu makhluk ekonomi," sebutnya.

Kemudian, Khudori meminta Mentan Amran untuk memilah dan memilih komoditas prioritas. Alasannya selain keterbatasan waktu, terdapat keterbatasan anggaran. Ia mencontohkan target swasembada harus dipetakan ulang.

Jika tidak memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, sebaiknya tidak dipaksakan swasembada.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.