Krisis Hormuz Belum Reda, Bahlil Lapor ke Prabowo: Stok Minyak Mentah RI Masih Aman

Selasa, 28 Apr 2026, 10:21 WIB

JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk membahas ketahanan energi nasional di tengah tekanan geopolitik global yang mengguncang rantai pasok energi dunia.

Fokus utama yang dibahas adalah kepastian stok minyak mentah (crude) untuk kilang nasional. Bahlil menegaskan, cadangan minyak mentah untuk kebutuhan refinery dalam negeri saat ini aman dan masih berada di atas batas minimum nasional.

Ket. Foto: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia usai Rapat Terbatas dengan Presiden Prabowo di Istana Negara, Senin (27/4) — Sumber: istimewa

“Selain BBM produk, stok minyak mentah untuk kilang kita juga aman, di atas standar minimum. Jadi alhamdulillah sudah dua bulan, hampir dua bulan ketika kejadian geopolitik di Timur Tengah tentang Selat Hormuz, kita masih stabil,” kata Bahlil usai Rapat Terbatas dengan Presiden Prabowo di Istana Negara, Senin (27/4).

Bahlil memastikan pasokan energi nasional secara keseluruhan tidak mengalami kendala. Kualitas BBM nasional, baik solar maupun bensin, juga tetap di atas standar minimum nasional.

Tak hanya soal minyak mentah, Bahlil turut melaporkan strategi mengurangi impor LPG. Konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya 1,6–1,7 juta ton. Artinya, sekitar 7 juta ton masih harus diimpor.

Pemerintah kini mengkaji alternatif substitusi LPG. Opsi yang disiapkan antara lain Dimethyl Ether (DME) berbasis batu bara kalori rendah dan Compressed Natural Gas (CNG). Menurut Bahlil, CNG lebih strategis karena memanfaatkan gas C1 dan C2 yang produksinya besar di dalam negeri. CNG juga sudah bisa dipakai untuk hotel, restoran, hingga SPBG.

“Sekarang lagi masih dalam pembahasan yang tadi saya laporkan adalah kita membuat CNG. Tapi ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi, dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan,” ungkapnya.

Untuk menghadapi potensi krisis energi global, pemerintah menyiapkan tiga langkah utama. Pertama, optimalisasi lifting migas. Kedua, diversifikasi energi lewat B50 untuk menekan impor solar. Ketiga, dorong bahan bakar bensin berbasis bioetanol lewat E20.

“Kita itu ada tiga hal yang harus kita lakukan dalam menghadapi krisis energi dunia sekarang. Yang pertama adalah kita harus mengoptimalkan lifting kita. Yang kedua adalah mencari diversifikasi, seperti B50. B50 itu kan mengurangi impor solar kita. Yang ketiga adalah kita harus dorong ke E, untuk bensin. Etanol, E20. Itu adalah bagian salah satu strategi,” tegas Bahlil.

Terkait B50, Kementerian ESDM tengah melakukan uji jalan di berbagai sektor. Hasil uji di sektor otomotif menunjukkan B50 aman, tanpa kendala signifikan. Performa mesin, filter bahan bakar, dan kualitas pelumas masih sesuai standar pabrikan. Uji jalan kini diperluas ke sektor perkeretaapian pada lokomotif sebagai persiapan mandatori B50 nasional.

Bahlil menyebut kombinasi pengamanan pasokan jangka pendek, termasuk menjaga stok minyak mentah kilang, dan percepatan diversifikasi energi domestik jadi kunci menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.