Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Danau Laut Air Tawar, Lanskap Epik di Kota Takengon

📅 Sabtu, 14 Okt 2023, 06:10 WIB | Oleh:
Danau Laut Air Tawar,  Lanskap Epik di Kota Takengon Doc: afp/ CHAIDEER MAHYUDDIN

Lanskap alam dataran tinggi Gayo yang cantik bisa menjadi tujuan untuk memanjakan mata dan pikiran. Danau Laut Air Tawar yang terbentuk karena peristiwa tektonik adalah daya tarik utama Kota Takengon di Kabupaten Aceh Tengah.

Dataran tinggi Gayo memiliki bentang alam dengan pemandangan alam yang amat memukau. Salah satu lanskap apik di Pegunungan Bukit Barisan ini adalah Danau Laut Air Tawar yang dalam bahasa sub etnik Aceh Gayo bernama "Danau Lut Tawar".

Danau Laut Air Tawar berada di Kabupaten Aceh Tengah, membujur dari timur ke barat dengan panjang mencapai 17 kilometer, dan lebar rata-rata sekitar 5 kilometer. Luas danau ini 5.472 hektare dengan volume air yang ada mencapai 2.537.483.884 meter kubik atau 2,5 triliun liter. Kemampuan menampung air yang begitu besar karena danau ini cukup dalam.

Danau jenis vulkanik ini sumber air danau yang menjadi sumber pengairan Kabupaten Aceh Tengah berada dari aliran 25 sungai. Total debit air dari sungai-sungai itu bila dijumlahkan sebesar 10.043 liter per detik.

Di ujung timur danau adalah Kota Takengon yang dijuluki "negeri di atas awan". Jarak kota ini dengan Kota Lhokseumawe sekitar 104 kilometer dengan waktu tempuh 2 jam 51 menit. Sedangkan jarak dengan Kota Banda Aceh sejauh 314,6 kilometer dengan lama perjalanan 7 jam 10 menit.

Kota kecil sekaligus menjadi ibu kota kabupaten Aceh Tengah ini dikenal sebagai kota yang berhawa sejuk. Betapa tidak, permukaan air Danau Laut Air Tawar yang berada di bawahnya sendiri berada pada ketinggian 1.230 meter dari permukaan laut (mdpl). Suhu air danaunya rata-rata antara 20 hingga 21 derajat Celsius.

Yang mengusik rasa ingin tahu adalah mengapa danau ini disebut laut atau lut. Alasan penamaannya konon karena deburan ombak di tepiannya seperti suara deburan ombak di laut. Suara serupa juga bisa dijumpai di Danau Toba di Sumatera Utara.

Lantaran suara deburan ombak maka danau ini dianggap seperti laut meski airnya tidak asin alias tawar, maka masyarakat warga Gayo menyebut tempat ini dengan nama Danau Lut Tawar atau Danau Air Laut Tawar dalam Bahasa Indonesia.

Fauzi Hasibuan, seorang geolog dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang berdarah Gayo menyatakan bahwa Danau Lut Tawar terbentuk bukan dari kawah gunung merapi, melainkan terbentuk proses horst dan graben atau terjadinya patahan pada kulit bumi yang mengalami depresi dan terletak diantara dua bagian.

Bagian patahan yang lebih tinggi disebut dengan horst dan yang rendah disebut graben. Horst berupa pegunungan yang ada di sekitar danau, sedangkan bagian graben yang rendah lalu membentuk Danau Air Laut Tawar.

Dari susunan batuannya menunjukkan bukan dari gunung api atau kawah, tapi dari horst dan graben. Batuannya berupa jenis batuan metamorf atau malihan bukan batuan beku (igneous). Ini mengalami perubahan akibat pengaruh fisis dalam jangka waktu yang lama. Pengaruh fisis tersebut dapat berupa suhu dan tekanan yang sangat tinggi sehingga mengakibatkan struktur partikel-partikel penyusun batu berubah.

Air Danau Laut Air Tawar dihuni ikan endemik yaitu ikan depik (Rasbora tawarensis). Ikan ini tidak dapat hidup dan dijumpai di tempat lain, dan menjadi bagian dari 120 spesies ikan endemik Indonesia. Bentuknya sekilas ikan ini mirip seperti ikan wader yang ada di Pulau Jawa atau ikan bilih di Danau Singkarak, Sumatra Barat, berukuran panjang 7 hingga 8 sentimeter serta bersisik putih berkilau.

Ikan depik yang menjadi oleh-oleh khas Takengon memiliki rasa gurih, tidak berbau amis. Sebelum dimasak ikan ini tidak perlu dibersihkan bagian perutnya. Hal ini karena perut ini ini nyaris tidak mengandung kotoran, karena makanannya hanya berupa jenis hydrilla yang hidup di dasar danau.

Untuk mendapatkan ikan depik bisa mendatangi pasar-pasar tradisional atau dijajakan di pinggir jalan di daerah yang dekat dengan Danau Laut Tawar. Ikan tersebut biasa ditangkap oleh nelayan setempat menggunakan berbagai alat, seperti jaring, didisen (perangkap ikan depik tradisional di pinggir danau), cangkol (jaring angkat yang dikaitkan dengan 4 bilah bambu) dan lain-lain.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Kepala Bapanas: Stok Beras ...
Megapolitan
Jakarta Terima Hadiah Ultah...

Kerukunan dan Kebebasan Beribadah Patut Disyukuri

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Kerukunan dan Kebebasan Ber...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.