Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Representasi Pocong dan Cerminan Ketakutan Masyarakat Indonesia

📅 Selasa, 12 Sep 2023, 11:53 WIB | Oleh: Tim Penulis
Representasi Pocong dan Cerminan Ketakutan Masyarakat Indonesia Doc: The Conversation/MataMata.com
Ket. Pocong merupakan hantu yang paling banyak direpresentasikan di film Indonesia.

Justito Adiprasetio, Universitas Padjadjaran dan Annissa Winda Larasati, Universitas Padjadjaran

Tubuh yang terbalut kain putih dengan tali kafan terikat, berlumuran tanah, diisi belatung, melompat dan terbang menerjang, mencekik, menyemburkan cairan tubuh melalui mulut, mengeluarkan cahaya hijau dari mata, membalas dendam dan membunuh, menjadi elemen dari representasi pocong dalam film horor Indonesia.

Menurut riset yang kami lakukan sebagai dosen ilmu komunikasi dan media di Universitas Padjadjaran, representasi tersebut menjadi pantulan ketakutan yang tertanam di benak masyarakat Indonesia.

Menariknya, representasi pocong ini mengalami perubahan dari waktu ke waktu karena mengutip Sigmund Freud, ahli saraf dan ilmuwan psikologi asal Austria yang dikenal sebagai bapak psikoanalisis, terkadang tubuh orang mati hanyalah mayat, namun di lain waktu, mayat menjadi mekanisme yang tidak dapat dipisahkan dari wacana sosial, ideologi gagasan, sikap dan ketakutan yang ada di masyarakat.

Sehingga, ketika situasi masyarakat berubah, representasi atas pocong pun berubah.

Representasi pocong sebelum era 90an: pelengkap dan sederhana

Berbeda dengan di Indonesia, masyarakat Timur Tengah tidak memercayai manusia dapat menghantui setelah kematiannya. Sehingga, film horor supernatural klasik Timur Tengah menempatkan jin dan variannya sebagai antagonis. Sementara horor supernatural Indonesia lebih banyak menempatkan manusia yang mati penasaran akibat pembunuhan dan menyimpan dendam sebagai hantu. Hal ini karena pocong dan banyak hantu lain di Indonesia berdiri di atas sistem kepercayaan sinkretik, kelindan antara kepercayaan atas ruh gentayangan, tempat keramat, momen-momen ngeri.

Pocong sendiri merupakan entitas spektral (terikat secara geografis) yang unik, karena walaupun representasinya berkaitan erat dengan ritual religi, namun pocong sebagai hantu tidak (pernah) benar-benar dominan mengisi layar sinema negara dengan mayoritas penduduk Islam lainnya. Bahkan, negara Timur Tengah tidak memiliki film horor pocong sama sekali.

Penelusuran yang kami lakukan juga menunjukkan bahwa hantu pocong di Melayu pada awal abad ke-20 disebut sebagai hantu bungkus, hantu golek atau hantu guling. Richard James Wilkinson, seorang administrator Kolonial Inggris, sarjana Melayu sekaligus sejarawan dari Inggris, dalam kumpulan makalah-nya yang berjudul "Malay Beliefs" (1906), menjelaskan bahwa hantu kochonk yang terikat kafan hanya dapat berjalan berguling ke samping. Pocong dalam wacana awal abad ke-20 di Melayu memang direpresentasikan secara sederhana, yaitu sebagai hantu yang tergolek atau terguling.

Setan Kuburan (1975) adalah film horor yang paling vulgar menjadikan pocong sebagai hantu utama pada periode sebelum 1990-an. Setelah itu, terdapat film yang merepresentasikan pocong sebagai hantu, seperti Malam Satu Suro (1988), tapi pocong tidak mendominasi layar sinema kita pada periode 1970-1998. Pocong hanya menjadi elemen pembangkitan hantu yang kemudian termanifestasi menjadi hantu lain seperti sundel bolong dalam Malam Satu Suro (1988) atau sebagai pelengkap untuk menambahkan nuansa teror pada bagian akhir film seperti dalam Pengabdi Setan (1982).

Representasi pocong pascareformasi: tokoh utama di berbagai media

Pascareformasi, khususnya setelah tayangnya Pocong 2 (2006) yang disutradarai Rudi Soedjarwo, pocong berkali-kali 'menghantui' layar sinema Indonesia.

Berdasarkan catatan kami, pada periode 2000-2020, terdapat 37 film horor Indonesia yang merepresentasikan pocong sebagai hantu utama. Data ini sangat signifikan bila dibandingkan dengan representasi pocong di film horor sebelum 1998.

Kemunculan Pocong 2 (2006) yang disusul oleh serentetan film pocong lain merupakan indikasi terjadinya pergeseran wacana ketakutan masyarakat Indonesia. Penelitian kami mengungkap terjadinya peningkatan kuantitas film horor Indonesia secara signifikan terutama pada genre horor spiritual yang mengandalkan nuansa religi pascareformasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Pekerja Sektor Pariwisata di Maluku Mulai Disertifikasi

37 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pekerja Sektor Pariwisata d...
Daerah
Musim Kemarau Membuat Garut...
Daerah
Berdayakan Warga Kurang Mam...

Alwi Obati Kekecewaan atas Kekalahan Jojo

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Alwi Obati Kekecewaan atas ...

OJK-Komdigi Bersinergi Putus Ekosistem Judi Online

1.5 jam yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
OJK-Komdigi Bersinergi Putu...
Daerah
Gunung Semeru Kembali Erups...

Denza Luncurkan Supercar Listrik Denza Z

2 jam lalu | Ilham Sudrajat

Otomotif
Denza Luncurkan Supercar Li...
Menkeu Tegaskan Pemerintah Tak Naikan Tarif Pajak

Menkeu Tegaskan Pemerintah Tak Naikan Tarif Pajak

14 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.