Intervensi Imperialisme Jatuhkan Kekuasaan Kaisar Terakhir
Selasa, 12 Sep 2023, 06:25 WIBSebagai pemerintahan yang dibangun oleh orang asing dari Manchuria di Asia timur laut, Dinasti Qing cukup pintar dalam mengelola sentiment anti-asing. Hasilnya mereka dapat menciptakan stabilitas dan berkuasa selama kira-kira 250 tahun.
Stabilitas politik dan ekonomi yang dihasilkan menghasilkan ledakan populasi. Di bawah Dinasti Qing, populasi Tiongkok bertambah dari sekitar 150 juta menjadi 450 juta. Jumlah populasi ini pada beberapa tahun kemudian menciptakan pemberontakan.
Pecahnya Pemberontakan Taiping pada pertengahan abad ke-19 merupakan tanda pertama bahwa fondasi Kekaisaran Qing mulai retak. Ini juga menjadi insiden awal bagi sentimen anti-Manchu yang dianggap sebagai orang asing. Sentimen ini dijadikan senjata dalam skala besar untuk melawan dinasti itu.
Pada akhir perang yang berlangsung selama 14 tahun, pasukan Qing telah kembali menguasai kekaisaran namun dengan konsekuensi yang sangat buruk. Jutaan orang tewas, ribuan hektare lahan pertanian hancur, dan kedudukan Tiongkok di dunia internasional ternoda secara permanen karena terpaksa mengerahkan militer dengan bantuan Prancis dan Inggris.
Perang Tiongkok-Jepang Pertama (1894-1895) merupakan peristiwa penting atas penghinaan berulang-ulang yang dilakukan Tiongkok kepada tentara asing. Selama ribuan tahun, Tiongkok telah membayangi Jepang untuk menjaga sentralitas dengan menerapkan sistem upeti.
Namun, pada akhir abad ke-19, Jepang telah memodernisasi militer dan ekonominya serta berkeinginan untuk mengembangkan kekuatan barunya. Setelah bertahun-tahun diremehkan secara diplomatis, Jepang siap untuk perang terbuka dengan Tiongkok dengan menguasai wilayah Semenanjung Korea dan Taiwan.
Hanya dalam delapan bulan, Jepang telah mencapai semua tujuan militernya. Meskipun pelatihan mereka ketinggalan jaman dan upaya modernisasi dilakukan dengan nama "Restorasi Tongzhi", namun tentara Tiongkok tetap saja menunjukkan kinerja yang buruk di medan perang. Pukulan terhadap prestise Tiongkok berlangsung cepat dan parah.
Kemudian Kekaisaran Qing dihadapkan pada Pemberontakan Boxer yang menancapkan paku terakhir ke dalam peti mati kekaisaran Qing yang sudah membusuk.
Prinsip utama pemberontak ini adalah komitmen untuk membersihkan Tiongkok dari orang asing. Pemberontakan dimulai dengan sungguh-sungguh pada 1900. Pasukan yang terdiri dari 50 hingga 100 ribu petinju berbaris di Beijing, bermaksud mengepung wilayah asing dan mengusir atau mengeksekusi orang asing. SB/hay/I-1
Berita Terkait:
-
Harga Minyak Anjlok Tajam setelah Trump Sebut Perang Melawan Iran akan Segera Berakhir
-
Lagi, Anggota Politbiro Tiongkok Diselidiki Lembaga Pengawas Antikorupsi
-
Semarakkan Mudik Lebaran 1447 H, KAI Wisata Hadirkan Hiburan Budaya hingga Pembagian Takjil
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Trump Ingin Tiongkok Belanja Lebih Banyak Energi dari AS
-
Berantas Judol, Gubernur Pramono Instruksikan Satpol PP Sisiri QR Code di Ruang Publik
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.