Sempat Dilewati, Ini Alasan Coldplay Pilih Manggung di Indonesia
📅 Senin, 21 Agu 2023, 11:23 WIB | Oleh: Tim PenulisDari pemahaman di atas, kita melihat bahwa ada tiga alasan mengapa Coldplay akhirnya memilih Indonesia.
Pertama, adanya alasan ekonomis di balik keputusan ini.
Pertumbuhan ekonomi di industri musik meningkat luar biasa pasca pandemi COVID-19. Industri musik merupakan salah satu sektor yang terpukul saat terjadi pembatasan sosial di seluruh dunia.
Pada awal penguncian wilayah (lockdown) pada 2020, semua tur dibatalkan. Ratusan kru dirumahkan. Sebagai gantinya, para musisi menggelar konser virtual dari rumah, termasuk Chris Martin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nyatanya, platform streaming belum bisa menggantikan pemasukan dari penampilan langsung (live performances) yang biasanya diikuti dengan penjualan merchandise dan iklan. Fakta ini tidak hanya terjadi di Tanah Air tetapi juga industri musik global.
Berkaca dari pengalaman mati surinya industri musik global selama pandemi, membuat musisi dan produser 'melonggarkan' aturan mainnya.
Kedua, menurut Adorno, layaknya industri atau pabrik, produk atau jasa yang ditawarkan pun akhirnya sesuai standar (culture standardised) dan diproduksi dalam jumlah besar (mass-produced) untuk memenuhi permintaan dan menyenangkan penonton.
Awalnya, Coldplay menganut budaya tinggi (high culture) dengan idealisme, menolak menggelar konser musik di negara-negara yang tidak sesuai dengan misi sosial mereka. Budaya tinggi merupakan budaya keseriusan, terdapat standar dan perspektif pencipta atau artis yang diterima oleh seluruh pengguna. Tapi belakangan, prinsip diubah demi kepentingan pasar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada tur "Music of the Spheres" tahun 2022-2024, Coldplay mulai elastis dengan permintaan pasar (mass culture). Skala ekonomi lagi-lagi menjadi dasar perhitungan (mass profit).
Kita bisa melihat ini ketika Coldplay menambah konser di Singapura selama lima hari untuk menampung lonjakan permintaan penggemar di negara-negara Asia Tenggara.
Dan untuk pertama kalinya, mereka mengelar konser di Indonesia dan Malaysia, dua negara dengan isu lingkungan hidup dan LGBTQ+ yang belum selaras dengan apa yang diperjuangkan oleh Coldplay.
Kecenderungan yang sama juga terjadi di sejumlah negara Eropa. Negara seperti Romania, Yunani, Hungaria kali ini masuk dalam daftar tur. Jumlah hari terus ditambah dan mendapatkan pemberitaan masif oleh media setempat.
Ini yang Adorno maksud ketika massa menganggap serius bisnis pertunjukan. Bintang-bintang dipuja-puja bagai pahlawan dan melahirkan apa yang disebut fetish-consciousness, keterasingan manusia pada kesadaran.
Ketiga, menggunakan logika konser musik sebagai produk dan jasa, pelaku di industri musik sebagai bagian dari industri budaya perlu memberikan nilai tambah dan berpikir kreatif.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!