WHO Peringatkan Bahaya Karsinogenik Pemanis Buatan Aspartam
📅 Sabtu, 15 Jul 2023, 00:07 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
JENEWA -Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) pada Jumat (14/7), mengatakan pihaknya sekarang mengklasifikasikan aspartam, pemanis buatan yang biasa digunakan dalam minuman ringan, "berpotensi karsinogenik bagi manusia", meskipun tingkat asupan harian yang dapat diterima tetap tidak berubah.
"Kami tidak menyarankan perusahaan untuk menarik produk, kami juga tidak menyarankan konsumen untuk berhenti mengonsumsi sama sekali," kata Direktur Nutrisi dan Keamanan Pangan WHO, Francesco Branca.
"Kami hanya menyarankan untuk sedikit moderasi," katanya dalam konferensi pers yang menyajikan temuan dari dua ulasan bukti yang tersedia tentang aspartam.
Dikutip dari Agence France-Presse (AFP). Badan Internasional untuk Penelitian Kanker atauInternational Agency for Research on Cancer (IARC) WHO melakukan evaluasi pertama kalinya terhadap karsinogenisitas aspartam pada pertemuan di Lyon, Prancis, dari 6 hingga 13 Juni.
"Kelompok kerja mengklasifikasikan aspartam sebagai kemungkinan karsinogenik bagi manusia," kata WHO.
Sebaiknya Anda baca juga:
Itu ditempatkan dalam kategori Grup 2B, berdasarkan bukti terbatas yang tersedia, yang secara khusus berkaitan dengan karsinoma hepatoseluler, sejenis kanker hati. Ada juga bukti dengan kekuatan terbatas mengenai kanker pada hewan percobaan.
Menurut pakar epidemiologi kanker di Cedars-Sinai Medical Center di Los Angeles, Paul Pharoah, kategori Grup 2B juga mengandung ekstrak lidah buaya dan asam caffeic yang ditemukan dalam teh dan kopi.
"Masyarakat umum tidak perlu khawatir dengan risiko kanker yang terkait dengan bahan kimia yang digolongkan sebagai Grup 2B," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mary Schubauer-Berigan dari IARC mengatakan, bukti terbatas untuk karsinoma hepatoseluler berasal dari tiga penelitian, yang dilakukan di Amerika Serikat dan di 10 negara Eropa. "Ini adalah satu-satunya studi epidemiologi yang meneliti kanker hati," katanya kepada wartawan.
"Dalam arti tertentu, kami telah mengibarkan bendera (peringatan) di sini, menunjukkan bahwa kami perlu mengklarifikasi lebih banyak situasi, tetapi juga bukan sesuatu yang dapat kita abaikan" kata Branca.
Kelompok kedua, Komite Pakar Bersama untuk Aditif Pangan yang dibentuk oleh WHO dan sesama badan PBB, Organisasi Pangan dan Pertanian, bertemu di Jenewa dari 27 Juni hingga 6 Juli untuk mengevaluasi risiko yang terkait dengan aspartam.
Disimpulkan data yang dievaluasi menunjukkan tidak ada alasan untuk mengubah asupan harian yang dapat diterima atauacceptable daily intake (ADI), yang ditetapkan pada 1981, dari nol hingga 40 miligram aspartam per kilogram berat badan.
Dengan sekaleng minuman ringan bebas gula yang biasanya mengandung 200 atau miligrampemanis aspartam, orang dewasa dengan berat 70 kilogramperlu mengonsumsi lebih dari sembilan hingga 14 kaleng per hari untuk melebihi ADI, dengan asumsi tidak ada asupan aspartam tambahan dari sumber lain.
"Masalahnya untuk konsumen tinggi.Seseorang yang sesekali minum soda seharusnya tidak perlu khawatir," kata Branca.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!