Infrastruktur Kesehatan Ternak Lemah
Jumat, 14 Jul 2023, 08:50 WIBJAKARTA - DPR RI meminta pemerintah serius melindungi industri peternakan nasional, khususnya peternak kecil dari ancaman berbagai macam penyakit hewan. Kemunculan penyakit hewan belakangan ini, seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) penyakit LSD (Lumpy Skin Desease) dan penyakit antraks, mengancam industri peternakan nasional. Terlebih lagi, saat ini, infrastruktur peternakan dan kesehatan hewan sangat lemah.
Anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan, turut prihatin atas kejadian merebaknya antraks di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menurutnya, hal ini patut menjadi kewaspadaan semua, terutama pemerintah lantaran telah jatuh korban meninggal dunia akibat positif antraks.
"Saya minta pemerintah meningkatkan kewaspadaan kejadian antraks pada manusia dan hewan ternak serta mengantisipasi penyebaran antraks ke daerah lain sebab sebagaimana kita ketahui dari mengutip data Kementerian Pertanian (Kementan) pada Rabu (5 Juli 2023) tercatat 12 ekor hewan ternak mati, sementara itu 85 warga positif antraks berdasarkan hasil tes serologi yang dilakukan kementerian kesehatan," ujar Johan dikutip dari laman resmi DPR RI, Kamis (13/7).
Dia meminta pemerintah mencegah perluasan antraks dengan cara memberikan pengobatan profilaksis kepada populasi terpapar. Dia pun mendesak pemerintah segera bertindak tangkas dalam mengatasi antraks.
Johan mengingatkan pemerintah begitu banyak permasalahan yang muncul akibat lemahnya pengendalian antraks di berbagai daerah endemi. "Saya ingin menyuarakan pentingnya membangun sistem kesehatan hewan di seluruh daerah terutama menyangkut sistem surveilans di daerah endemis, sistem pelaporan ke pemerintah pusat, kecukupan ketersediaan vaksin, pelaksanaan standar kesehatan hewan dan perlindungan kesehatan hewan kepada peternak rakyat perlu diperbaiki saat ini," jelas Johan.
Legislator dapil Nusa Tenggara Barat I itu berharap ada edukasi kepada masyarakat hewan mati akibat antraks harus segera dikubur atau dibakar serta tidak boleh dikonsumsi. Sebab, penyakit antraks ini tidak dapat dibebaskan, namun hanya bisa dikendalikan. "Kejadian ini semacam wabah penyakit hewan, namun menular kepada manusia sehingga perlu vaksin untuk mencegahnya," kata Johan.
Selain itu, Johan menandaskan infrastruktur peternakan dan kesehatan hewan sangat lemah. Padahal penyakit hewan sering kali berdampak langsung bagi gangguan kesehatan manusia serta berpengaruh nyata bagi kehidupan sosial ekonomi para peternak di Tanah Air.
"Untuk itu, perlu adanya niat yang tulus dari pemerintah dan DPR untuk meningkatkan anggaran di sektor peternakan dan kesehatan hewan agar persoalan ini segera bisa diatasi," ujarnya.
Kerugian Material
Anggota Komisi IV DPR RI, Slamet, menegaskan kemunculan berbagai penyakit dalam peternakan ini menyebabkan kerugian sangat besar, seperti hilangnya mata pencaharian penduduk dan bahkan terakhir antraks juga menimbulkan korban jiwa.
"Karena itu, melalui pimpinan yang terhormat, saya berharap agar DPR mendesak pemerintah untuk supaya secara serius melindungi industri peternakan nasional khususnya dan anak kecil dari ancaman-ancaman berbagai macam penyakit hewan," ujar Slamet dalam interupsinya di Rapat Paripurna DPR RI ke-30 Masa Persidangan ke-5 Tahun Sidang 2022-2023 di Ruang Rapat Paripurna DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (13/7).
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Airlangga: Jepang Berperan Penting Bangun Ekosistem Industri Otomotif Indonesia
-
Pemprov DKI Tambah 10.000 Bus Transjakarta hingga 2029
-
Bupati Banyumas Dorong Kepala Sekolah Melek Digital dan Inovatif
-
PM Kamboja Tuding Thailand Duduki Wilayahnya
-
Tabrak Kendaraan di Landasan Bandara New York, Pilot dan Kopilot Air Canada Tewas
-
Mendag Buka Data: Ribuan Pengaduan Konsumen Jadi Alarm Perdagangan Nasional
-
Jalur KRL Cikampek dan Sukabumi Mulai Digeber 2026, Cek Rutenya di Sini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.