- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ilmuwan Kembangkan Pembasm...
Ilmuwan Kembangkan Pembasmi Nyamuk Tanpa Insektisida
Selasa, 04 Jul 2023, 00:00 WIBSINGAPURA - Di tengah meningkatnya resistensi nyamuk terhadap insektisida, teknologi baru telah dikembangkan untuk membasmi serangga tanpa menggunakan pestisida.
Dilaporkan oleh The Straits Times, perusahaan kosmetik dan bahan kimia Jepang, Kao, baru-baru ini telah mengembangkan zat yang dapat menempel pada sayap dan tubuh nyamuk, mencegahnya terbang.
"Zat hidrofobik yang mirip dengan lilin, memungkinkan mengusir nyamuk dan bertelur di udara," kata Kao.
Berdasarkan penelitian perusahaan sebelumnya pada 2020 bahwa nyamuk tidak dapat hinggap di kulit manusia ketika kakinya dilapisi minyak silikon. Kao memfokuskan perhatiannya pada surfaktan senyawa kimia yang dapat mengurangi tegangan permukaan antara dua cairan, dengan hipotesis bahwa gelombang perilaku serangga dapat diubah dengan membasahi tubuh dan sayapnya.
Menurut Kao, larutan surfaktan yang berair dengan cepat melapisi sayap dan tubuh nyamuk dapat mencegahnya terbang dan menjatuhkannya. "Selain itu, solusinya dapat memblokir spirakel, bukaan kecil di perut serangga yang memungkinkannya menghisap udara, dan mencegah nyamuk mengambil oksigen," kata Kao.
Penggunaan larutan surfaktan berbasis air menggunakan mekanisme yang sama sekali berbeda dari konvensional insektisida.
"Nyamuk bergantung pada kemampuan menolak air dari tubuhnya untuk bertahan hidup, sehingga diharapkan nyamuk tidak akan mudah mendapatkan resistensi terhadap mekanisme fisik membasahi tubuhnya yang secara efektif menyebabkan kematiannya," ungkapnya.
Nyamuk Sangat Kebal
Ini muncul setelah sebuah penelitian yang terbit di jurnal ilmiah Science Advances pada Desember 2022, menemukan sebagian besar nyamuk aedes aegypti, yang membawa penyakit seperti demam berdarah dan zika, yang dikumpulkan di Kamboja dan Vietnam telah mengembangkan kemampuan yang membuat mereka "sangat kebal" terhadap insektisida yang biasa digunakan.
Solusi Kao dikembangkan bersama oleh Laboratorium Penelitian Produk Perawatan Kesehatan Pribadi dan Laboratorium untuk Mekanisme Sirkuit Persepsi Sensorik, di bawah Institut Penelitian Fisik dan Kimia Jepang.
Temuannya diterbitkan dalam jurnal peer-review Scientific Reports pada Februari, dan dipresentasikan selama KTT Demam Berdarah Asia yang diadakan pada Juni di Bangkok, Thailand.
Namun, menurut ahli penyakit menular, Ooi Eng Eong, keefektifan aerosol dalam mengendalikan populasi aedes aegypti masih diperdebatkan karena semprotan perlu melakukan kontak langsung dengan nyamuk.
"Aedes aegypti telah beradaptasi dengan lingkungan perkotaan yang sangat rapat. Oleh karena itu, tidak mudah menemukan nyamuk ini sedang terbang dan membunuhnya dengan semprotan," katanya.
"Sebaliknya, metode yang terbukti dalam mengendalikan jumlah mereka adalah dengan mengurangi jumlah wadah penahan air tempat mereka berkembang biak," tambahnya.
Kao mengatakan berencana untuk menerapkan teknologi tersebut ke dalam penggunaan praktis untuk melindungi orang dari penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.
Ketika ditanya kapan produk itu akan tersedia secara komersial, juru bicara Kao mengatakan kepada The Straits Times bahwa perusahaan belum memiliki rencana konkret untuk memasarkannya, tetapi akan mencobanya pada daerah yang berpotensi terkena demam berdarah seperti Singapura.
Berita Terkait:
-
Pemkab Gorontalo Tanggung Biaya Kepesertaan 12.000 PBI JKN yang Dinonaktifkan
-
Nyamuk Tidak Hidup di Islandia, Kok Bisa?
-
Oknum Prajurit TNI Terlibat Penganiayaan di Tangsel akan Dihukum
-
Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik dalam Uji Coba Pertama Tahun 2026.
-
UIN Bukittinggi-BKSDA dukung pupuk herdanic untuk ketahanan pangan
-
Natuna Siap Gelar Sekolah Rakyat Perdana, Disdikbud Cari 33 Guru Berkompeten
-
Kunjungan Perdana, Wapres Gibran Disambut Tari Gale-Gale di Raja Ampat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.