Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Jepang Targetkan Rp323 T Per Tahun untuk Pengasuhan Anak

📅 Jumat, 19 Mei 2023, 16:36 WIB | Oleh: Tim Penulis
Jepang Targetkan Rp323 T Per Tahun untuk Pengasuhan Anak Doc: ANTARA/Juwita Trisna Rahayu

TOKYO - Pemerintah Jepang memperkirakan perlu mengumpulkan dana sebesar tiga triliun yen (sekitar 323 triliun rupiah) per tahun untuk menopang kebijakan pengasuhan anak yang diajukan Perdana Menteri Fumio Kishida, menurut laporan kantor berita Jiji pada Kamis (18/5).

Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengatasi penurunan angka kelahiran.

Pemerintah Jepang pada Maret menyusun rencana untuk meningkatkan pengasuhan anak selama tiga tahun mendatang. Akan tetapi, masalah pembiayaan paket pengeluaran utama, seperti masalah kenaikan pajak atau utang, belum terselesaikan.

Jiji melaporkan bahwa, dalam skema pendananaan yang direncanakan itu, pemerintah akan memperbesar dana tersebut secara bertahap selama tiga tahun sejak tahun fiskal 2024/2025.

Pemerintah juga disebutkan akan mengamankan jumlah dana yang dibutuhkan paling lambat pada akhir periode kebijakan itu.

Kishida sebelumnya mengatakan pemerintah akan mengidentifikasi dana untuk kebijakan pengasuhan anak itu pada Juni dan bahwa dia tidak berencana menaikkan pajak penjualan konsumen untuk itu.

Pejabat pemerintah tidak dapat dihubungi untuk memberi komentar di luar jam kerja. Jiji adalah salah satu dari dua kantor berita domestik utama di Jepang yang memiliki rekam jejak menghadirkan berita terkini.

Beberapa anggota parlemen dari partai yang berkuasa telah memberikan gagasan untuk mengeluarkan obligasi tambahan, dengan pembenaran bahwa obligasi yang ditujukan untuk pendidikan akan dapat membantu generasi mendatang.

Sementara itu, pemerintah sedang berjuang untuk mendapatkan sumber pendapatan yang aman.

Kishida telah mengumumkan rencana untuk meningkatkan bantuan pengasuhan anak, menyusul rencana pengeluaran besar lainnya untuk menggandakan pengeluaran militer nasional.

Rencana-rencana tersebut akan semakin membebani utang publik Jepang, yang sudah sangat buruk dan jumlahnya dua kali lebih besar dari penghasilan ekonomi tahunan.

Pemerintah sebelumnya mengalokasikan sekitar 6,1 triliun yen (sekitar 657 triliun rupiah ) untuk tahun fiskal terakhir yang berakhir pada Maret untuk menangani penurunan jumlah kelahiran.

Jepang adalah salah satu negara dengan penuaan masyarakatnya yang tercepat di dunia. Di negara itu, jumlah bayi yang baru lahir turun di bawah 800.000 bayi untuk pertama kalinya, setelah sebelumnya mencapai puncak di angka 2,09 juta pada 1973, ketika terjadi ledakan angka kelahiran kedua.

Menurunnya tren angka kelahiran telah disalahkan sebagai penyebab kekurangan tenaga kerja yang memburuk dan berkurangnya potensi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ant/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
  • Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
  • 269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar
    Preview komentar:
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2
Luar Negeri
Paus Leo XIV Desak Dunia La...

PDIP Jatim Bidik Kursi Gubernur pada Pemilu 2029

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
PDIP Jatim Bidik Kursi Gube...
Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.