RI Harus Bangun Ekosistem Pasar Keuangan yang Lebih Berdaya Tahan
Senin, 08 Mei 2023, 00:04 WIB» Penurunan nilai aset bank secara signifikan meningkatkan kerentanan sistem perbankan AS terhadap penarikan dana besar-besaran oleh deposan.
» Pengambilalihan pemerintah dengan menjamin semua simpanan deposan justru membuat kebingungan dan kecemasan investor.
JAKARTA - Laporan USA Today, pekan lalu, mengenai rapuhnya sektor perbankan di Amerika Serikat (AS) perlu diwaspadai. Hal itu untuk menghindari dampak psikologis pasar yang bisa merambat ke berbagai wilayah terutama tingkat kepercayaan nasabah terhadap perbankan.
Hasil studi yang dilaporkan itu menunjukkan masih ada 186 bank yang berisiko mengalami kebangkrutan, jika separuh deposan yang simpanannya tidak masuk skema penjaminan menarik dana mereka.
Ancaman kegagalan bank-bank regional itu dipicu kebijakan kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (the Fed) yang agresif untuk menekan inflasi. Langkah itu mengikis nilai aset-aset bank seperti obligasi pemerintah dan sekuritas berbasis hipotek.
"Penurunan nilai aset bank baru-baru ini secara signifikan meningkatkan kerentanan sistem perbankan AS terhadap penarikan dana besar-besaran oleh deposan (bank run) yang tidak dijamin," tulis para ekonom dalam sebuah makalah terbaru yang diterbitkan di Social Science Research Network.
Penarikan dana itu dapat menimbulkan efek bergulir ke para deposan yang simpanannya masuk dalam skema penjaminan yaitu nasabah mereka yang memiliki simpanan maksimal 250 ribu dollar AS atau kurang dari itu.
Skenario tersebut kata para ekonom akan terjadi jika pemerintah tidak melakukan langkah-langkah penyelamatan seperti intervensi berupa rekapitalisasi dari pemerintah.
Menanggapi ancaman risiko sistemik bank-bank di AS itu, pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Yohanes B Suhartoko, di Jakarta, Minggu (7/5), mengatakan pasar keuangan dunia memang ironis.
Di satu sisi negara maju memiliki hegemoni atau penguasaan pasar sehingga menentukan suku bunga, distribusi, dan alokasi, bahkan tingkat risiko yang ditunjukkan oleh kekuatan lembaga pemeringkat investasi, termasuk penguasaan mereka pada informasi.
Di sisi lain, sistem, aturan dan pengawasan pasar keuangan yang negara-negara maju bangun ternyata mulai terlihat rapuh. "Liberalisasi keuangan dan produk-produk keuangan yang lintas batas negara seperti criptocurency yang tak terkendali menjadi pemicu yang kuat kerapuhan industri keuangan negara maju," kata Suhartoko.
Sebab itu, bagi negara sedang berkembang seperti Indonesia, penting ke depan membangun ekosistem pasar keuangan yang baru bersama negara lain yang berdaya tahan dan lebih independen terhadap kondisi pasar negara maju.
"Langkah dedolarisasi yang mulai dilakukan merupakan langkah awal untuk itu," tegas Suhartoko.
Belum Pulih
Miliarder, Warren Buffett, pada Sabtu (6/5), mengatakan belum pulihnya kepercayaan nasabah terhadap perbankan di AS karena penanganan dari pemerintah yang buruk.
Dikutip dari The Straits Times, empat bank regional terjebak krisis sejak awal Maret di AS, tiga di antaranya kemudian diambil alih lembaga lain dengan bantuan otoritas.
Bagi Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank, Lembaga Penjamin Simpanan AS atau Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) telah mengambil keputusan kontroversial dengan menjamin semua simpanan nasabah termasuk yang tidak masuk skema penjaminan. Intervensi dengan penjaminan semua dana nasabah itu karena FDIC khawatir akan menimbulkan risiko sistemik.
Terlepas dari langkah yang luar biasa itu, nasabah, kata Buffet, tetap masih merasa khawatir. "Itu seharusnya tidak terjadi. Pesannya sangat buruk," kata Taipan berusia 92 tahun itu.
"Apa yang terjadi dengan SVB menunjukkan pengambilalihan pemerintah yang memperluas penjaminan simpanan dan membuat masyarakat makin bingung," tambahnya.
Sementara itu, pengambilalihan darurat bank regional First Republic oleh raksasa JPMorgan Chase baru-baru ini yang diperkirakan akan meredakan kecemasan pasar, malah berubah menjadi minggu yang penuh gejolak.
Beberapa saham bank-bank level menengah menjadi sasaran investor di bursa Wall Street, khususnya PacWest, yang harga sahamnya jatuh 68 persen sebelum pulih 82 persen di sesi Jumat saja.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Optimalkan Data Teritorial, Kodim 1710/Mimika Terima Tim Pulsaji Data Satkowil Pusterad
-
Kelompok Hezbollah Hancurkan Tank Merkava Israel dengan Rudal Kornet
-
Pemkab Penajam Gunakan NS1 Cegah Kematian akibat DBD
-
Libur Lebaran, Atraksi Budaya di Pariaman Jadi Daya Tarik
-
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa: Masyarakat Tak Perlu Khawatir Harga BBM, Anggaran Subsidi Aman
-
Bank Mandiri Raih 4 Penghargaan SBSN 2025, Dominasi Pasar Syariah Makin Kuat
-
Periode Pascalebaran, PELNI Berikan Diskon Tarif 20% untuk Muatan Kontainer
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.