- Home
-
- Luar Negeri
-
- MAS: Credit Suisse di Sing...
MAS: Credit Suisse di Singapura Tetap Beroperasi tanpa Gangguan
Senin, 20 Mar 2023, 14:21 WIBSINGAPURA - Credit Suisse akan terus beroperasi di Singapura tanpa gangguan, kata Otoritas Moneter Singapura (MAS), Senin (20/3), setelah pengumuman bank tersebut diambil alih oleh UBS.
"Credit Suisse Group AG akan terus beroperasi di Singapura tanpa gangguan atau pembatasan, menyusul pengumuman pengambilalihan oleh UBS Group AG," kata MAS dalam keterangan persnya.
"Nasabah Credit Suisse akan terus memiliki akses penuh ke akun mereka dan kontrak Credit Suisse dengan rekanan tetap berlaku. Pengambilalihan itu diperkirakan tidak berdampak pada stabilitas sistem perbankan Singapura."
Menurut MAS, kegiatan utama Credit Suisse dan UBS di Singapura adalah private banking dan investment banking, dan tidak melayani nasabah ritel.
"Selain kegiatan perbankan, Credit Suisse juga melakukan jasa keuangan di bawah entitas berlisensi lainnya di Singapura," kata MAS.
"Untuk saat ini, entitas Credit Suisse ini akan terus beroperasi di bawah lisensi masing-masing."
MAS menambahkan, pihaknya "telah berhubungan dekat" dengan Otoritas Pengawas Pasar Keuangan Swiss (FINMA) dan diberi pengarahan mengenai rincian pengambilalihan pada Senin pagi.
"MAS akan tetap berhubungan erat dengan FINMA, Credit Suisse, dan UBS saat pengambilalihan dilakukan, untuk memfasilitasi transisi yang tertib, termasuk mengatasi dampak apa pun terhadap pekerjaan," kata bank sentral Singapura itu.
"MAS akan terus memantau dengan cermat sistem keuangan domestik dan perkembangan internasional, dan siap menyediakan likuiditas melalui rangkaian fasilitasnya untuk memastikan bahwa sistem keuangan Singapura tetap stabil dan pasar keuangan terus berfungsi dengan tertib."
Pada Minggu, UBS setuju untuk mengambil alih saingannya sebesar 3,23 miliar dolar AS menyusul pembicaraan untuk menghentikan bank yang terkena dampak dari krisis perbankan internasional yang lebih luas.
Segera setelah pengumuman tersebut, Federal Reserve AS, Bank Sentral Eropa, dan bank sentral utama lainnya mengeluarkan pernyataan untuk meyakinkan pasar yang telah dilanda krisis perbankan yang dimulai dengan runtuhnya dua bank regional AS awal bulan ini.
Rabu lalu, Credit Suisse kehilangan hampir seperempat nilainya setelah investor terbesarnya, Saudi National Bank, mengatakan tidak dapat memberikan lebih banyak bantuan keuangan kepada bank Swiss itu.
Sehari kemudian, pemberi pinjaman yang berbasis di Zurich ini pulih setelah mengamankan lifeline 54 miliar dolar AS dari bank sentral Swiss, namun, sahamnya ditutup turun 8 persen pada hari Jumat di 1,86 franc Swiss karena berjuang untuk mempertahankan kepercayaan investor.
Pada 2022, bank mengalami kerugian bersih sebesar US$7,9 miliar dan memperkirakan kerugian sebelum pajak yang "substansial" tahun ini.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: CNA
Berita Terkait:
-
PT KAI: Tiket Lebaran 2026 Masih Tersedia
-
PVMBG: Gunung Semeru Erupsi Lontarkan Kolom Abu Setinggi 500 Meter
-
Panglima TNI Pimpin Prosesi Pemakaman Mayor Zulmi di TMP Cikutra Bandung
-
Cegah Judol Merajalela, Polri Minta Perbankan Perketat Prosedur Pembukaan Rekening
-
Sinergi Asean: Filipina dan Singapura Resmikan Kerangka Kerja Pengurangan Emisi Karbon
-
Kabupaten Penajam Komitmen Perkuat Jaminan Kesehatan bagi Masyarakat, Prioritaskan Pelayanan
-
Sampah Kiriman Menumpuk di Pantai Kedonganan Bali
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.