Kenaikan Suku Bunga Picu Keruntuhan SVB? Bank Sentral Harus Bagaimana?
📅 Kamis, 16 Mar 2023, 13:13 WIB | Oleh: Tim PenulisDengan sedikitnya permintaan pinjaman dari sektor tersebut, SVB menginvestasikan sebagian besar uangnya dalam obligasi jangka panjang - kebanyakan berasal dari sekuritas yang didukung hipotek dan Departemen Keuangan AS.
Singkatnya, SVB memperoleh dana dalam bentuk simpanan jangka pendek dan menanamkannya dalam investasi jangka panjang. Kemudian, dalam waktu beberapa bulan, suku bunga jangka pendek naik di atas imbal hasil dari obligasi jangka panjang (lihat grafik di bawah). Sebab, kebijakan the Fed membuat suku bunga melambung.
Dengan putaran pendanaan sulit diperoleh dalam situasi ekonomi dengan suku bunga tinggi, perusahaan teknologi pun mulai menarik dan menghabiskan simpanannya. Pada saat bersamaan, tingginya suku bunga berakibat pada jatuhnya harga obligasi yang menjadi pilihan investasi SVB. Ini mengakibatkan margin laba SVB menyempit dan neraca keuangannya goyah.
Situasi makin runyam karena SVB terpaksa menjual rugi obligasi yang bertenggat panjang lebih awal, demi mendanai simpanan yang ditarik para nasabah. Berita soal penjualan obligasi ini membuat nasabah makin menarik dana, yang kemudian harus ditambal lagi dengan menjual obligasi. Lingkaran malapetaka pun terjadi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengumuman 8 Maret bahwa SVB ingin mengumpulkan US$ 2,5 miliar untuk menutup lubang akibat kebakaran aset ini memicu penarikan dana besar-besaran oleh nasabah pada saat yang bersamaan (bank run), yang kemudian mengakhiri sepak terjang institusi keuangan tersebut.
Kekhawatiran Soal Risiko Sistemik
Seberapa khawatirkah kita seharusnya terhadap runtuhnya SVB?
Sebaiknya Anda baca juga:
SVB bukanlah pemain besar dalam sistem keuangan dunia. Keberadaannya dalam perbankan modern juga cukup unik mengingat ketergantungannya pada satu sektor sebagai basis kliennya, dan kerentanan neraca keuangannya dihadapkan pada kenaikan suku bunga.
Namun, walaupun tidak memicu krisis finansial yang lebih besar, kejatuhan SVB menjadi peringatan penting. Naiknya suku bunga sepanjang setahun terakhir telah membuat ekonomi global rapuh.
Bank sentral dunia menempuh jalan yang sempit untuk mencoba memerangi inflasi tanpa merusak stabilitas keuangan. Para bankir bank sentral harus mengelola suku bunga dengan lebih hati-hati, sementara regulator harus mencegah sektor keuangan dari aktivitas jual beli dan simpan pinjam tanpa lindung nilai yang memadai atas potensi risiko yang ditimbulkan.
Penting juga bagi bank sentral memantau dampak perbedaan suku bunga dan arus modal lintas batas negara terhadap kredit yang tersedia bagi bank dan bisnis. Bahkan jika kegagalan SVB dan Signature terbukti tidak lebih dari sekadar "kesulitan lokal kecil" (mengutip bekas perdana menteri Inggris lain, Harold Macmillan), risiko sistemik yang jadi sorotan pasca keruntuhan dua bank ini tidak dapat lagi diabaikan.![]()
Charles Read, Fellow in Economics and History at Corpus Christi College, University of Cambridge
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!