Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kenaikan Suku Bunga Picu Keruntuhan SVB? Bank Sentral Harus Bagaimana?

📅 Kamis, 16 Mar 2023, 13:13 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kenaikan Suku Bunga Picu Keruntuhan SVB? Bank Sentral Harus Bagaimana? Doc: The Conversation/Unsplash/Mariia Shalabaieva
Ket. Mungkinkah muncul risiko sistemik dari ambruknya Silicon Valley Bank?

Charles Read, University of Cambridge

Mantan Perdana Menteri Inggris Harold Wilson terkenal dengan ucapannya tentang bagaimana dalam politik, satu minggu adalah periode yang panjang. Namun di dunia keuangan, tampaknya semuanya bisa berubah hanya dalam dua hari saja.

Hanya selang 48 jam setelah Silicon Valley Bank (SVB), mengumumkan pada 8 Maret bahwa bank komersial asal Amerika Serikat (AS) tersebut tengah mencari pendanaan sebesar US$ 2,5 miliar (Rp 38,43 triliun) untuk menutup lubang di neraca keuangannya, Federal Deposit Insurance Corporation (selaku badan regulator) mengumumkan bahwa bank tersebut bangkrut.

Pada masa jayanya pada 2021, SVB memiliki valuasi sebesar US$ 44 miliar dan mengelola aset hingga US$ 200 miliar. Seminggu sebelumnya, SVB masih menjadi lembaga penerima simpanan terbesar ke-16 di AS. Dalam sekejap, SVB mencetak rekor sebagai kegagalan perbankan terbesar kedua sepanjang sejarah negara tersebut, setelah ambruknya institusi keuangan Washington Mutual pada krisis finansial global 2008.

Walaupun kondisi keuangan SVB memang sudah tak sehat selama beberapa waktu, kejatuhannya yang begitu cepat mengejutkan semua orang, termasuk nasabahnya yang kebanyakan berasal dari sektor teknologi. Perusahaan teknologi di seluruh dunia menyimpan uangnya di SVB dan kini was-was soal bagaimana mereka harus membayar pekerja dan tagihan mereka, sampai akhirnya sokongan pemerintah AS diumumkan bersamaan dengan kesepakatan HSBC untuk membeli SVB cabang Inggris.

Dan tampaknya hal-hal yang menyebabkan keruntuhan SVB - yang menurut beberapa metrik merupakan yang tercepat dalam sejarah - menyebar ke institusi-institusi lainnya yang memiliki karakteristik serupa. Pada 12 Maret, dua hari setelah SVB ambruk, regulator di New York menutup Signature Bank, dengan alasan risiko sistemik.

Tapi apakah yang terjadi dengan SVB betul tak dapat diduga, dicegah dan dihindari? Riset saya menunjukkan, tidak. Buku terbaru saya tentang sejarah krisis finansial, Calming the Storms: the Carry Trade, the Banking School and British Financial Crises Since 1825, kebetulan diterbitkan sehari sebelum jatuhnya SVB dan menjelaskan tiga situasi yang mengarah ke krisis perbankan.

Mengapa SVB Ambruk

Salah satu penyebab potensial adalah ketika perubahan suku bunga antar negara menyebabkan investor mengejar suku bunga yang lebih baik, dan mengakibatkan mulainya atau berhentinya pergerakan arus modal secara mendadak. Akibatnya, ketersediaan dana pun terpengaruh. Inilah yang terjadi selama krisis kredit 2007, yang mendahului krisis keuangan global.

Namun, ini bukan penyebab di balik keruntuhan SVB.

Tersungkurnya SVB berhubungan dengan dua penyebab lain yang saya deskripsikan di buku saya.

Pertama adalah ketika suku bunga meningkat dengan cepat. Penyebabnya bisa jadi karena bank sentral bereaksi terhadap kenaikan inflasi, perang atau ketatnya lapangan pekerjaan. Memang, bank sentral AS, Federal Reserve atau the Fed, serta bank sentral di berbagai negara, telah menaikkan suku bunga dari rentang 0.25%-0.5% menjadi 4.5%-4.75% sepanjang 12 bulan terakhir.

Tingginya suku bunga membuat pinjaman makin ketat. Hal ini menyulitkan institusi keuangan untuk membiayai operasinya sendiri, sekaligus merusak nilai pinjaman dan aset eksisting mereka.

Yang kedua adalah ketika suku bunga jangka pendek naik di atas suku bunga jangka panjang, seperti yang terjadi di AS selama beberapa bulan terakhir. Selama pandemi, perusahaan rintisan teknologi, dengan uang cadangan dari putaran dana di dunia uang mudah (easy money), menempatkan simpanan mereka di SVB.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Nasional
Pengungkapan Narkotika Keta...

Kemeriahan Gebyar PAUD Yogyakarta 2026

4 jam yang lalu | Fajar Alim M

Daerah
Kemeriahan Gebyar PAUD Yogy...
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.