Bangkrutnya SVB Timbulkan Kengerian di Keuangan Global
📅 Kamis, 16 Mar 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiNamun deposan masih berusaha memindahkan saldo ke bank yang lebih besar seperti JPMorgan, Citi, dan Bank of America, serta dana pasar uang, kata orang tersebut. Hal itu terutama terjadi saat saldo melebihi ambang 250.000 dollar AS yang dijamin asuransi federal.
Peneliti Ekonomi dari Center of Reform on Economics (Core), Yusuf Rendi Manilet, mengatakan masalah miss management yang menimpa SVB dan Signature Bank bisa menimpa semua bank, baik bank yang asetnya kecil maupun besar, termasuk bank-bank di Indonesia.
Salah satu masalah salah pengelolaan di SVB karena kurang terdiversifikasinya, pengelolaan dana mereka. Banyak dana disalurkan ke perusahaan teknologi, ada juga yang ditempatkan di US Treasury, tetapi yang tenornya panjang.
Langkah tersebut tidak salah, tapi ketika the Fed menaikkan suku bunga acuan maka otomatis mendorong naiknya imbal hasil suku bunga jangka pendek, sementara harga surat utang jangka panjang turun. "Itu mempengaruhi kinerja keuangan. Pas nasabah mau memindahkan dananya, dari SVB ke surat utang jangka pendek, maka bank kesulitan likuiditas," papar Yusuf.
Sebaiknya Anda baca juga:
Apalagi, fokus pembiayaan bank ke perusahaan teknologi dan sayangnya itu tidak diimbangi dengan kemampuan untuk generate dana dari sumber yang lain. Artinya, ketika debitur yang rata-rata perusahaan rintisan tidak mampu menghasilkan pengembalian dana yang lebih besar dibanding permintaan dana dari pemilik dana maka terjadi mismatch yang berakhir rush dana oleh nasabah.
Masih Bergantung AS
Secara terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan peringatan Presiden dan Menko Perekonomian tersebut patut diperhatikan pelaku industri jasa keuangan mengingat kebergantungan ekonomi nasional terhadap luar masih tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Saya kira warning pemerintah ini bagus. Tidak ada buruknya. Kalau tidak sampai terjadi, ya syukur. Kalau sampai kejadian, setidaknya kita bersiap. Karena kebergantungan ekonomi kita pada luar, terutama AS dan Tiongkok masih tinggi. Ekspor kita banyak ke kedua negara yang bisa dikatakan ekonomi perdagangannya sudah sejajar, sama-sama terkuat di dunia," kata Wibisono.
Kalau ada masalah di sektor keuangan AS, biasanya berimbas ke hampir seluruh dunia karena dana-dana dari fund manager diinvestasikan di berbagai negara.
"Sekarang yang bermasalah di sektor jasa keuangan, kita tidak tahu apa sektor riil atau dunia usahanya tidak terdampak. Kita berharap ini tidak sampai berlarut. Karena kalau ekonomi sekuat AS saja yang selama ini produktivitas sektor riilnya kuat bisa terdampak, apalagi negara yang di bawahnya," kata Wibisono.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!