Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah, Rakyat, dan Pertamina Harus Taat pada Aturan

📅 Kamis, 09 Mar 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah, Rakyat, dan Pertamina Harus Taat pada Aturan Doc: ANTARA/M RISYAL HIDAYAT
Ket. DAMPAK KEBAKARAN DEPO PERTAMINA PLUMPANG I Foto udara permukiman penduduk yang hangus terbakar dampak kebakaran Depo Pertamina Plumpang di Jalan Koramil, Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta, belum lama ini.

» Insiden kebakaran Depo Pertamina di Plumpang menunjukkan lemahnya penegakan aturan di Indonesia.

» Tiga tahun terakhir, ada sembilan kali kebakaran di kilang atau fasilitas penting milik Pertamina.

JAKARTA - Kebakaran Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) atau Depo Pertamina di Plumpang, Jakarta Utara, Jumat (3/3) pekan lalu, selain menyisakan pilu dan kerugian bagi masyarakat dan perusahaan, juga mengungkap sengkarut masalah mengenai keberadaan warga di sekitar objek vital tersebut.

Pakar kebijakan publik dari Universitas Brawijaya, Malang, sekaligus Presiden Forum Dekan Ilmu-ilmu Sosial (Fordekiis), Andy Fefta Wijaya, mengatakan kasus kebakaran Depo Pertamina Plumpang menunjukkan rendahnya ketaatan semua pihak termasuk rakyat, pemerintah ataupun Pertamina terhadap kebijakan yang berlaku.

"Pertamina mengeklaim bahwa tanah itu miliknya maka patut dipertanyakan terjadinya pembiaran masyarakat untuk menempati lahan tersebut. Apakah ada oknum-oknum yang bermain dalam hal ini sebelumnya," kata Andy.

Begitu pula dengan pemerintah yang melegitimasi keberadaan masyarakat di sana juga patut dipertanyakan, karena akan dipandang lebih memprioritaskan mencari dukungan (suara) dibandingkan keselamatan warganya sendiri.

Masyarakat pun seharusnya sadar bahwa daerah tersebut berbahaya untuk ditempati. Solusinya adalah memisahkan keduanya, apakah dengan memindahkan masyarakat ke lokasi lain, namun dengan tetap memperhatikan beban dan akses kehidupan mereka, ataupun dengan memindahkan lokasi depo ke lokasi yang aman, jauh dari permukiman masyarakat.

"Hal ini merupakan pembelajaran bagi siapa saja termasuk para pelaku bisnis, pemerintah, dan masyarakat bahwa mereka perlu memperhitungkan dengan matang-matang tata kelola risiko (risk governance) dengan mengedepankan hati nurani dibanding rasionalitas politik dan material," tegas Andy.

Pada kesempatan terpisah, pengamat dari Ahli dan Dosen Republik Indonesia (ADRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Aditya Hera Nurmoko, mengatakan insiden kebakaran Depo Pertamina di Plumpang menunjukkan lemahnya penegakan aturan di Indonesia. Bukan hanya masyarakat, tetapi pemerintah pun begitu mudah melanggar aturan untuk merebut hati rakyat.

"Kalau tanah ditempati warga itu milik Pertamina, semestinya Pemprov DKI jangan mengeluarkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), jangan menarik pajak, tagihan listrik, dan seterusnya. Rakyat juga kalau tahu itu bukan tanahnya, idealnya jangan bertempat tinggal di situ," kata Aditya.

Pemberian IMB sementara kepada warga dilakukan pada 2021 oleh Gubernur DKI, Anies Baswedan. Izin tersebut menuai kontroversi karena IMB seharusnya berbasis pada sertifikat hak milik, sementara tanah tersebut diklaim sebagai lahan Pertamina

Demikian juga Pertamina selaku pemilik tanah, sebelum berkembang menjadi kampung, begitu ada warga yang mendirikan bangunan, semestinya langsung ditegur dan menyuruh membongkar secara sukarela sebelum melakukan pembongkaran paksa.

Di Indonesia, katanya, sudah terbiasa menggampangkan sesuatu sehingga fasilitas yang semestinya tingkat keamanannya standar keamanan tertinggi begitu mudahnya mengalami kecelakaan. Berdasarkan data, dalam tiga tahun terakhir setidaknya ada sembilan kali kebakaran di kilang atau fasilitas-fasilitas penting milik Pertamina.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

29 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

39 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

48 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.