Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bappenas Sebut Ekonomi Biru Penting karena ASEAN Terhubung Oleh Lautan

📅 Rabu, 01 Mar 2023, 23:29 WIB | Oleh: Tim Penulis
Bappenas Sebut Ekonomi Biru Penting karena ASEAN Terhubung Oleh Lautan Doc: Istimewa
Ket. Deputi Bidang Ekonomi Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Amalia Adninggar Widyasanti dalam acara Multi-Stakeholder Dialogue on the Development of the ASEAN Blue Economy Framework di Belitung, Bangka Belitung, yang dipantau secara virtual, Jakarta, Rabu.

Jakarta - Deputi Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Amalia Adninggar Widyasanti mengatakan ekonomi biru (blueeconomy) menjadi penting bagi negara-negara Asia Tenggara karena setiap negara anggota ASEAN terhubung oleh lautan.

"Lautan bukanlah pemisah kita, tapi sebenarnya kita terhubung oleh lautan," kata Amalia Adninggar Widyasanti dalam acara Multi-Stakeholder Dialogue on the Development of the ASEAN Blue Economy Framework di Belitung, Bangka Belitung, yang dipantau secara virtual di Jakarta, Rabu (1/3).

Ia menyebutkan di ASEAN, lautan sebenarnya menyumbang 2,5 persen dari permukaan seluruh lautan. Di dalam kawasan ASEAN sendiri, lautan (waterarea) mencakup sebanyak 66 persen dari total luas keseluruhan (lautan).

Lebih lanjut, perairan di Asia Tenggara disebut menyumbang 15 persen dari perikanan global dan mempekerjakan sekitar 625 juta orang di dalam sektor terkait kelautan.

Lautan ASEAN juga terkenal sebagaihotspot keanekaragaman hayati, salah satu ekosistem paling produktif di bumi, menyediakan ekosistem penting untuk pembibitan, dan habitat untuk varietas keanekaragaman hayati laut, perlindungan pesisir, dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

"Ekonomi biru ASEAN adalah mesin pertumbuhan ekonomi masa depan karena kita memiliki banyak peluang di sana," ucap Amalia.

Ada lima peluang dari ekonomi biru di ASEAN, mulai dari perairan Asia Tenggara terletak di dua jalur pelayaran utama dunia, Indonesia memiliki sektor energi laut terbarukan yang sedang berkembang, minat global terhadap ekowisata membuka potensi pertumbuhan sektor domestik, lalu mengembangkan potensi sektor bio-teknologi kelautan dalam konstelasi global.

"Terakhir, banyak tenaga kerja yang melimpah (bonus demografis) yang harus kita berikan pekerjaan kepada mereka, namun dengan pekerjaan yang lebih baik dan berkualitas melaluiblueeconomy," ungkap dia.

Selain itu, dia menggarisbawahi bahwa ekonomi biru berpotensi menjadi pertumbuhan ekonomi sekaligus mencapai Sustainable Development Goals/SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan).

Ketika berbicara tentang ekonomi biru, kata dia, tidak hanya terkait dengan poin SDGs nomor 14 yang bertujuan melestarikan dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya kelautan dan samudera untuk pembangunan berkelanjutan.

"Namun, masih ada 8 tujuan (poin nomor 1, 2, 7, 8, 9, 12, 13, dan 17) lain dari SDGs yang bisa menjadi fokus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi biru," ujar Deputi Bidang Ekonomi Bappenas itu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Babel Gatiskan 6.000 Sertifikat Halal

18 menit yang lalu | Sujar

Daerah
Babel Gatiskan 6.000 Sertif...
Luar Negeri
Bandara Dihantam Rudal, Kuw...
Daerah
SPMB 2026 Bengkulu Tanpa Ti...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.