Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Lore Lindu, Surga Keragaman Hayati di Garis Wallacea

📅 Sabtu, 25 Feb 2023, 06:15 WIB | Oleh:
Lore Lindu, Surga Keragaman Hayati di Garis Wallacea Doc: Istimewa

Berada di dalam garis Wallacea, Sulawesi memiliki keragaman hayati yang tidak ditemui di luar garis itu. Kekayaan flora dan fauna secara lengkap, juga peninggalan peradaban prasejarah dapat dilihat di Taman Nasional Lore Lindu.

Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) di Sulawesi Tengah menawarkan kekayaan yang luar biasa. Seperti entitas serupa lainnya, taman ini memiliki fungsi sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Taman Nasional Lore Lindu berada di selatan Kabupaten Donggala dan bagian barat Kabupaten Poso. Ditetapkan oleh UNESCO sebagai kawasan cagar biosfer pada 1977, tempat ini memiliki luas 217.991,18 hektare dengan jarak dari Kota Palu mencapai 147 kilometer, sementara dari pusat Kota Poso jaraknya sekitar 60 kilometer.

Secara geologis, TNLL berada di antara dua patahan utama Sulawesi tengah. Di kawasan pegunungan, pada umumnya terbuat dari batuan asam sepertischists, granit, dangneissesyang memiliki sifat peka terhadap erosi. Pada bagian timur yaitu dataran danau yang berawan dan datar ditemukan formasilakustrin. Bagian barat terdapat formasi aluvium berbentuk kipas aluvial.

Sedangkan jenis tanah lapisan dan jenis tanah yang ada di TNLL terbagi menjadi empat, yaituinceptisol,alfisol,ultisol, danentisol. Suhu di kawasan taman nasional ini berada pada kisaran antara 26 hingga 32 derajat Celsius dengan curah hujan rata-rata 2.000 sampai 3.000 mm setiap tahun.

Kelembaban udara rata-ratanya 86 persen dengan kecepatan angin 3,6 kilometer per jam. Bagian selatan TNLL merupakan daerah tangkapan air dari tiga sungai besar. Ketiga sungai tersebut adalah Sungai Lariang, Sungai Palu, dan Sungai Gumbasa.

Sebagai kawasan pelestarian alam berbagai jenis flora, TNLL memiliki cukup beragam tipe ekosistem. Misalnya ekosistem hutan hujan dataran rendah, ekosistem hutan pegunungan atas, ekosistem rawa, ekosistem sabana, dan ekosistem sungai atau dataran banjir.

Berada di dalam garis imajiner Wallacea, sebuah garis hipotetis yang memisahkan wilayah geografi hewan Asia dan Australasia, TNLL menjadi rumah bagi flora dan fauna endemik langka yang hanya terdapat di Sulawesi. Kawasan ini memiliki bermacam karakteristik seperti kawasan pegunungan, rawa, danau, dan hutan dalam satu kompleks.

Danau Lindu di kaki Gunung Nokilalaki dengan luas 3.488 hektare berada pada ketinggian kurang lebih 1.000 mdpl yang tergolong dalam kategori danau tektonik menjadi sumber mata pencaharian bagi nelayan setempat. Puncak tertingginya adalah Gunung Rorekatimbu yang berada pada ketinggian 2.355 mdpl.

Kawasan hutan TNLL memiliki beberapa tipe ekosistem hutan yang berbeda-beda. Taman nasional ini juga memiliki curah hujan yang berbeda. Di bagian utara, curah hujan berkisar antara 2.000-3.000 mm per tahun dan di bagian selatan mencapai 3.000-4.000 mm per tahun.

Secara ekologis tempat ini menjadi daerah tangkapan air bagi 3 sungai besar di Sulawesi Tengah, yakni sungai Lariang, sungai Gumbasa dan sungai Palu. Kawasan tersebut sebagai rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna yang berstatus endemik.

Hutannya yang lebih menjadi pelindung bagi flora endemik, yakni leda (Eucalyptus deglupta) dan wanga Wanga (Figajeta flaris sp). Pohon leda memiliki kulit pohon berwarna warni seperti halus berwarna kuning, coklat sampai ungu. Pohon ini dapat mencapai ukuran tinggi 50 meter dan diameter batang 200 sentimeter.

Keduanya jenis pohon ini memiliki baunya yang harum, sehingga dijadikan bahan kosmetik kecantikan. Selain leda dan wanga, bisa ditemui juga tumbuhan sejenis rotan, pohon ara, aren, damar, kantong semar, pangi, dan masih banyak lagi.

Anggrek merupakan jenis yang juga menjadi primadona di kawasan TNLL. Saat ini ada dua lokasi budidaya anggrek yaitu di Mataue dan Telaga Tambing. Koleksi anggrek endemik yang dibudidayakan sebanyak 42 jenis. Beberapa jenis diantaranya adalahAerides odoratum,Acanthephippium javanicum,Arundina bambusifolia,Cymbidium finlaysonianum,Dendrobium macrophyllum, danEria coronaria.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Jepang akan Menaikan Biaya Visa Lima Kali Lipat Mulai 1 Juli

46 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Jepang akan Menaikan Biaya ...
Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.