Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mengenal Fenomena 'de-influencing' yang terjadi di media sosial

📅 Rabu, 22 Feb 2023, 16:20 WIB | Oleh:
Mengenal Fenomena 'de-influencing' yang terjadi di media sosial Doc: ANTARA/freepik.com
Ket. Ilustrasi seorang influencer

JAKARTA- Akademisi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Dicky Chresthover Pelupessy menjelaskan bahwa fenomena de-influencingyang marak di media sosial terjadi karena kekuatan dari seorang influencer atau pemengaruh untuk mengajak pengikutnya melakukan sesuatu.

"Media sosial itu kan dulunya mungkin awalnya kita pakai untuk berinteraksi. Tapi lama kelamaan kan media sosial ini dia menjadi sebuah media ekonomi. Maksudnya untuk mengiklankan, jualan dan sebagainya," kata Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan Fakultas Psikologi UI Dicky Chresthover Peluppesy, S.Psi,.M.D.S., Ph.D kepada ANTARA, Rabu.

"Jadi di sini ada pertautan antara media sosial dimana seorang influenceritu punya kekuatan dari jumlah orang yang menyukai, jumlah orang yang jadi followers gitu ya. Dan dia jadi medium untuk produk atau hal-hal yang kemudian kita anggap sebagai sesuatu yang kita konsumsi itu," tambahnya.

Lebih dalam, Dicky menjelaskan bahwa seorang pemengaruhyang memiliki jumlah pengikutbanyak akan dianggap kredibel oleh masyarakat. Sehingga, dia pun bisa menggunakan kredibilitasnya tersebut untuk mengajak pengikutnya melakukan sesuatu.

"Jadi kalau dalam bahasa psikologi ini adalah apa yang kita sebut sebagai persuasi. Untuk mempersuasi itu ada beberapa hal yang jadi faktor penting. Yang pertama itu kan biasanya kredibilitas. Dan kredibiltas itu bisa bermacam-macam," terang Dicky.

"Bisa karena kepakaran, bisa karena kehebatan, nama keluarga dan lain-lain. Tetapi sebenarnya kalau kita lihat dari media sosial, kredibilitas itu dimiliki oleh seseorang biasanya dari jumlahfollowers. Karena judulnya saja media sosial, media berinteraksi. Ketika kemudian followers ini bertambah, makin banyak, biasanya itu yang menjadi ukuran kredibilitas seorang influencer," imbuhnya.

Namun, saat ini para pemengaruhpun tak hanya mempromosikan produk yang bisa dibeli oleh masyarakat. Kemunculan fenomena de-influencing ini adalah tindakan dari para pemengaruhuntuk meyakinkan pengikutnya agar tidak membeli sesuatu.

Menurut Dicky, hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor sehingga diimbau agar masyarakat tak hanya mencari informasi dari satu pemengaruhsaja. Faktor dari de-influencingbisa terjadi karena motif personal atau bahkan justru permintaan dari satu pihak agar pemengaruh tersebut tidak memasarkan produk tertentu.

"Ketika ada fenomena de-influencing, si influencer ini ya menggunakan kredibilitas dalam persuasi yang dia bangun dalam jumlah followers. Ini kan motifnya bisa macam-macam. Mungkin bisa saja itu hanya semacam motif personal, subjektif, tanpa tendensi profit taking tertentu," ujar Dicky.

"Tapi bisa saja kan kita nggak tahu, di belakangnya misalnya ternyata ada endors untuk tidak mengendors satu produk. Jadi menurut saya, inilah pertautannya antara pengaruh influencerdengan budaya konsumerisme, dimana di situ ada influencer dan kekuatan dia adalah jumlah followers. Kemudian dia pakai untuk kemudian mengendors yang tidak diendors," demikian menurut Dicky Chresthover.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Pemprov Maluku Luncurkan Bu...

Mari Menciptakan Sekolah yang Nyaman bagi Murid

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Mari Menciptakan Sekolah ya...

Pemain Inggris tak Sabar Ingin Hadapi Messi

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Pemain Inggris tak Sabar In...

Daya Beli dan Ketahanan Ekonomi Jakarta Terjaga

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Daya Beli dan Ketahanan Eko...
Daerah
Kejati Sumbar Bantah Telah ...
Nasional
Polda Metro Jaya Minta Imig...

Andoni Iraola Bertekad Bangun Liverpool

1.5 jam yang lalu | Sriyono

Olahraga
Andoni Iraola Bertekad Bang...
Megapolitan
Hari Pertama Sekolah Tergan...
Ribuan Loker Tersedia di Job Fair Kota Jogja, Catat Jadwalnya!

Ribuan Loker Tersedia di Job Fair Kota Jogja, Catat Jadwalnya!

13 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.