Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Sebelum Hari Valentine, Pahami Dulu Arti Cinta dan Hasrat dari Dewa Cupid

📅 Sabtu, 11 Feb 2023, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Sebelum Hari Valentine, Pahami Dulu Arti Cinta dan Hasrat dari Dewa Cupid Doc: Art Images via Getty Images
Ket. Bagian dari lukisan dinding “Triumph of Galatea,” yang dibuat oleh Raphael sekitar tahun 1512 untuk Villa Farnesina di Roma.

Joel Christensen, Brandeis University

Setiap Hari Valentine, ketika saya melihat gambar dewa Cupid bersayap gemuk yang membidik dengan busur dan anak panahnya ke korbannya yang tidak memiliki kecurigaan, saya berlindung di belakang pemahaman saya sebagai seorang ahli puisi dan mitologi Yunani awal untuk merenungkan keanehan gambar ini dan kaitannya dengan sifat alami cinta.

Dalam mitologi Romawi kuno, Cupid adalah anak dewi Venus, yang sekarang dikenal sebagai dewi cinta, dan Mars, dewa perang. Namun, bagi para orang di zaman kuno, seperti yang ditunjukkan oleh mitos dan teks, dia benar-benar dewa pelindung "hubungan seksual" dan "prokreasi." Nama Cupid, yang berasal dari kata kerja bahasa Latin cupere, berarti hasrat, cinta, atau nafsu. Akan tetapi, dalam kombinasi aneh tubuh bayi dengan senjata mematikan, bersama dengan orang tua yang diasosiasikan dengan cinta dan perang, Cupid merupakan sosok kontradiksi - simbol konflik dan hasrat.

Sejarah ini jarang tercermin dalam perayaan Hari Valentine zaman modern. Pesta Santo Valentine dimulai sebagai perayaan St. Valentine Roma. Seperti yang dijelaskan oleh Candida Moss, seorang ahli teologi dan zaman kuno, romansa dari iklan selama hari Valentine mungkin lebih terkait dengan Abad Pertengahan daripada Roma kuno.

Cupid yang bersayap ini adalah favorit para seniman dan penulis di Abad Pertengahan dan Renaisans, tetapi dia bukan sekadar simbol cinta bagi mereka.

Terlahir dari Seks dan Perang

Cupid zaman Romawi bisa disamakan dengan dengan dewa Yunani Eros, asal kata "erotis." Di Yunani kuno, Dewa Eros sering dianggap sebagai putra Ares, dewa perang, dan Aphrodite, dewi kecantikan, serta seks dan hasrat.

Dewa Eros masa Yunani sering muncul dalam ikonografi Yunani awal bersama dengan dewi sejenis lainnya, yaitu sekelompok dewa bersayap yang diasosiasikan dengan cinta dan hubungan seksual. Sosok kuno ini sering digambarkan sebagai remaja yang lebih tua - tiga tubuh bersayap ini terkadang dipersonifikasikan sebagai trio: eros (nafsu), himeros (hasrat), dan pothos (gairah).

Namun, ada juga versi Eros yang lebih muda dan menyenangkan. Penggambaran seni dari abad kelima sebelum Masehi (SM) memperlihatkan Eros sebagai seorang anak yang sedang menarik gerobak di atas vas figur merah. Sebuah patung Eros yang tertidur dan terbuat dari perunggu dari periode Helenistik abad kedua SM juga menunjukkan dia sebagai seorang anak.

Akan tetapi, pada masa Kekaisaran Romawi, gambar Cupid kecil yang gemuk menjadi lebih umum. Penyair Romawi Ovid menulis tentang dua jenis panah Cupid: yang mengeluarkan hasrat tak terkendali dan yang lain menembak sasarannya dengan rasa muak. Penggambaran dewa Yunani dan Romawi yang memegang kekuasaan untuk melakukan kebaikan dan keburukan adalah hal yang umum. Dewa Apollo, misalnya, dapat menyembuhkan orang dari penyakit atau menyebabkan wabah yang menghancurkan kota.

Mitos-mitos Yunani yang lebih awal juga memperjelas bahwa Eros bukan sekadar kekuatan untuk mengalihkan perhatian. Di awal karya puisi penyair Yunani Hesiod "Teogoni" - sebuah puisi yang menceritakan sejarah penciptaan alam semesta yang diceritakan melalui reproduksi para dewa - Eros muncul sejak awal sebagai kekuatan alam yang diperlukan karena dia "mengganggu anggota tubuh, berada di luar nalar pikiran dan menghibur semua manusia dan dewa." Baris ini adalah pengakuan atas kekuatan hasrat seksual yang bahkan terjadi pada para dewa.

Menyeimbangkan Konflik dan Hasrat

Namun, Eros artinya tidak hanya tentang tindakan seksual. Bagi filsuf Yunani awal Empedocles, Eros dipasangkan dengan Eris, dewi perselisihan dan konflik, sebagai dua kekuatan paling berpengaruh di alam semesta. Bagi para filsuf seperti Empedocles, Eros dan Eris mempersonifikasikan daya tarik dan pembagian pada tingkat unsur, yaitu kekuatan alam yang menyebabkan materi menciptakan kehidupan dan kemudian menghancurkannya lagi.

Di dunia kuno, seks dan hasrat dianggap sebagai bagian penting dari kehidupan tetapi menjadi berbahaya jika menjadi terlalu dominan. Buku The Symposium karya Plato, sebuah dialog tentang sifat Eros, memberikan survei mengenai berbagai gagasan tentang hasrat pada saat itu - beralih dari pengaruhnya pada tubuh ke sifat dan kemampuannya untuk mencerminkan manusia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Tiongkok Luncurkan Satelit ...
Luar Negeri
Qatar Dorong Negara Teluk H...
Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.