Studi Epigenetik Membalikkan Penuaan pada Tikus, Mungkinkah Bagi Manusia?
Rabu, 25 Jan 2023, 12:10 WIBPenuaan adalah proses kehidupan yang pasti dilalui setiap orang. Seiring bertambahnya usia, tubuh akan merespon dengan cara yang berbeda, dan seringkali kian melemah.
Sementara para ilmuwan hingga kini mempercayai bahwa perubahan atau mutasi DNA merupakan penyebab penuaan. Sebuah, penelitian dari Harvard Medical School menemukan hipotesis alternatif bahwa epigenetik turut memengaruhi proses penuaan seseorang.
Melansir laman Gene Craft Labs, epigenetik merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan ekspresi gen yang diwariskan (gen aktif versus gen tidak aktif) yang tidak melibatkan perubahan pada urutan DNA yang mendasarinya perubahan fenotipe tanpa perubahan genotipe, namun pada gilirannya memengaruhi cara sel membaca gen.
Berbeda dengan perubahan genetik pada umumnya, perubahan epigenetik memengaruhi ekspresi gen untuk "mengaktifkan" dan "menonaktifkan" gen secara mudah akibat lingkungan dan perilaku sehari-hari, seperti kebiasaan pola hidup sehat, merokok, dan lainnya.
Temuan ini didapat para ilmuwan usai mendemonstrasikan melalui model tikus di mana perubahan informasi epigenetik menyebabkan tikus menua pertama dan kemudian membalikkan penuaan.
Studi yang dipublikasi pada jurnal Cell itu juga bukan pertama kalinya bagi para peneliti menggunakan epigenetik untuk mempelajari penuaan.
Misalnya, penelitian sebelumnya menunjukkan epigenetik memberikan jam biologis bagi tubuh, membantu para ilmuwan mengukur tingkat penuaan seseorang.
Epigenetik dan penuaan
Berbicara kepada Medical News Today, David Sinclair, seorang profesor di Departemen Genetika dan salah satu direktur Paul F. Glenn Center for Biology of Aging Research di Harvard Medical School, yang terlibat dalam penelitian itu mengatakan, tim peneliti memutuskan untuk mempelajari epigenetik sebagai pendorong potensial untuk proses penuaan berdasarkan penelitian sebelumnya.
"Kami telah menemukan bahwa jika Anda mengaktifkan tiga gen "Yamanaka" yang biasanya diaktifkan selama embriogenesis, Anda dapat dengan aman membalikkan proses penuaan hingga lebih dari 50 persen," jelasnya kepada MNT.
"Gen-gen ini memulai program yang tidak dipahami dengan baik, tetapi hasilnya adalah pembalikan usia dan pemulihan fungsi jaringan. Misalnya, kita bisa membalikkan usia saraf optik untuk memulihkan penglihatan semua tikus," sambung Sinclair.
Selama penelitian ini, para peneliti membuat "luka" yang meniru efek gaya hidup tertentu dan efek lingkungan pada pola epigenetik DNA.
Para peneliti menemukan luka tersebut menyebabkan pola epigenetik tikus berubah dan akhirnya tidak berfungsi. Hal ini menyebabkan tikus mulai terlihat dan bertingkah lebih tua. Tikus ini juga mengalami peningkatan biomarker yang mengindikasikan penuaan.
Para ilmuwan kemudian memberikan terapi gen tikus ini untuk membalikkan perubahan epigenetik, yang mereka katakan sebagai "mengatur ulang" program epigenetik tikus dan akhirnya membalikkan penuaan yang dialami tikus.
"Kami berharap hasil ini dilihat sebagai titik balik dalam kemampuan kami untuk mengendalikan penuaan," kata Sinclair.
"Ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa kita dapat mengontrol dengan tepat usia biologis hewan yang kompleks; bahwa kita dapat mendorongnya maju dan mundur sesuka hati," jelasnya.
Apa artinya ini bagi manusia?
Santosh Kesari, ahli saraf di Pusat Kesehatan Providence Saint John di Santa Monica, CA, dan Direktur Medis Regional untuk Research Clinical Institute of Providence Southern California, mengatakan hasil studi tersebut telah membuka pemahaman tentang bagaimana penuaan terjadi dan bagaimana kita dapat mengukurnya pada tingkat DNA.
Namun, karena penelitian ini dilakukan dalam model hewan, Kesari mengatakan pertanyaan dan tantangan berikutnya adalah memahami bagaimana hal yang sama berdampak pada manusia di dunia nyata.
"Tentu saja, kami tidak ingin menunggu (selama) 10, 20, atau 30 tahun untuk melakukan studi penuaan, jadi tantangannya adalah benar-benar mengidentifikasi penanda pada manusia, (â¦) menguji obat, dan kemudian memiliki biomarker jangka pendek yang memberi tahu kita apakah obat bekerja atau tidak dan mempengaruhi gangguan yang berkaitan dengan usia," jelas Kesari.
Redaktur: Fiter Bagus
Penulis: Suliana
Berita Terkait:
-
Bupati Banyumas Dorong Kepala Sekolah Melek Digital dan Inovatif
-
Target penambahan kapasitas PLTB
-
Liga Champions: Kompany Puji Performa “Istimewa” Neuer Usai Bayern Taklukkan Madrid
-
Perut Anda Buncit? Jalan Kaki 10 Menit Sehabis Makan Solusinya!
-
Line Up Synchronize Fest 2026 Fase 1: Daftar 17 Musisi dan Jadwal Festival
-
Tabrak Kendaraan di Landasan Bandara New York, Pilot dan Kopilot Air Canada Tewas
-
Wajib Tahu! Kurang Tidur di Usia 40-an dan 50-an Bisa Meningkatkan Risiko Alzheimer di Kemudian Hari
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.