- Home
-
- Megapolitan
-
- Para Nelayan Banten Dua Pe...
Para Nelayan Banten Dua Pekan Tidak Melaut
Rabu, 11 Jan 2023, 06:35 WIBTANGERANG - Sekitar 200 nelayan tradisional pesisir Tanjung Kait, Kabupaten Tangerang, sudah dua pekan tidak melaut karena cuaca buruk sesperti gelombang tinggi. "Sudah hampir dua pekan kami tidak melaut karena gelombang tinggi dalam cuaca ekstrem," ucap Jumadi (40), salah satu nelayan pesisir Tanjung Kait, di Tangerang, yang dipantau, Selasa (10/1).
Dia mengatakan para nelayan tradisional memilih tidak melaut karena risiko cukup tinggi yang bisa membahayakan keselamatan. Maka, tambahan tangkapan ikan sangat minim. "Bila dipaksain, kapal bisa pecah. Makanya kita diliburkan semua," katanya. Jumadi menyebutkan dengan tidak adanya aktivitas melaut untuk tangkap ikan, berimbas minimnya ketersediaan ikan segar di pasar.
Jumadi juga mengaku jumlah nelayan Tanjung Kait sekitar 200. Selama cuaca ekstrem dari awal 2023 mereka terpaksa meliburkan diri. Sementara itu, nelayan lainnya, Hadi (48), mengaku tetap nekat melaut meski dalam kondisi cuaca buruk. Namun, tidak berani sampai ke tengah laut.
"Selama cuaca ekstrem, kami hanya bisa menangkap kepiting dan rajungan di pinggir laut dengan jaring," tuturnya. Ia menambahkan, bila cuaca bagus setiap kali melaut menghasilkan 20 sampai 90 kilogram ikan tangkap.
Pergerakan Tanah
Cuaca ekstrem yang menyerang Banten juga mengakibatkan dampak pergerakan tanah. Setidaknya, ada 16 rumah rusak akibat pergerakan tanah setelah hujan lebat disertai angin kencang hari-hari belakangan. "Beruntung, pergerakan tanah tidak menimbulkan korban jiwa," kata Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Lebak, Agustus Riza Faizal, dalam keterangannya di Lebak, Selasa (10/1).
Masyarakat yang terdampak pergerakan tanah antara lain di Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak. Berdasarkan pendataan lapangan tercatat 16 rumah rusak dengan kategori berat. Ada juga 18 rumah rusak sedang. "Pergerakan tanah ada di Desa Cigoong Utara, Kecamatan Cikulur," ujar Agustus.
Menurut dia, BPBD Lebak hingga kini masih mendata karena korban pergerakan tanah juga terjadi di sejumlah kecamatan lain. Apalagi, saat ini cuaca ekstrem dengan hujan tinggi disertai angin kencang, masih sering terjadi. Dia mengimbau masyarakat harus terus waspada.
Pemerintah daerah akan membantu masyarakat yang terdampak pergerakan tanah untuk meringankan beban ekonomi mereka. "Tahun lalu warga terdampak pergerakan tanah dapat bantuan pembangunan hunian tetap," katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Cigoong Utara Kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak, Habibi, mengatakan, korban pergerakan tanah sudah ditinjau beberapa instansi terkait untuk memberikan bantuan bahan pokok. "Kami berharap pemerintah daerah dapat membantu warga korban pergerakan tanah, terutama pembangunan hunian tetap," harap Habibi.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka, Antara
Berita Terkait:
-
Wah, di Papua pun Sudah Banyak Mafia Tanah Berkeliaran
-
Pemerintah Perkuat UMKM Pertanian Lewat Inovasi, Akses Pasar, dan KUR
-
Cuaca Ekstrem Berpotensi Melanda Banten pada 3-8 Mei, BMKG Minta Warga Waspada
-
Euforia IPO Meledak! Mirae Asset Ingatkan Risiko di Balik Serbuan Investor Ritel
-
Suasana yang Tenang Tiba-tiba Berubah Riuh Ketika Laut Bergelombang Tinggi Lalu Menghantam Rumah-rumah yang Penghuninya Terlelap
-
Cuaca Ekstrem hingga 24 Mei, BPBD DKI Minta Warga Waspada Banjir
-
Sesosok Mayat Laki-laki dengan Luka di Leher di Jombang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.