Aum, Kritik Sosial Samar Seorang Putu Wijaya
📅 Jumat, 06 Jan 2023, 14:56 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: ISTIMEWA
JAKARTA - Lakon Aum karya Putu Wijaya yang ditulis pada 1981 dipentaskan kembali di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta selama dua hari, yaitu pada 4 - 5 Januari 2023 mulai pukul 20.00 WIB dan berakhir pukul 22.00 WIB. Pertunjukan kali ini diadakan dalam rangka menggalang dana solidaritas bagi tokoh Teater Mandiri itu yang kini sedang dalam masa perawatan.
Pentas yang diadakan secara gratis ini menggalang donasi bagi Putu Wijaya. Pada kesempatan itu sastrawan Taufik Ismail menyumbang lukisan karya Amri Yahya yang dibeli oleh Abrory Jabar. Selain dia beberapa tokoh turut berdonasi seperti intelektual Denny JA, pematung Nyoman Nuarta, dan lainnya.
"Pertunjukan solidaritas ini bukan menggeser Teater Mandiri sebagai pengabdi sosial. Tetapi kami tetap pekerja teater yang akan melakukan kritik sosial," kata Jose RizalManua pendiri Teater Tanah air dalam pengantarnya pada pertunjukkan hari kedua Kamis (5/1).
Pertunjukan dimulai oleh dialog lucu dua orang satpam Bupati yang diperankan oleh Ari Sumitro dan Lalu Karta Wijaya. Keduanya mengeluhkan tentang pekerjaan dan nasib mereka sebagai seorang satpam, yang menjaga Bupati.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh rombongan yang dipimpin oleh Nenek yang diperankan oleh Laila Uliel El Nama. Anggota rombongan lainnya diperankan oleh Rukoyah, Imron Rosyadi, Taksu, Achong, Widi, Penny, dan Agung terpaksa menginap di luar pagar rumah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mereka menyatakan berasal dari sebuah wilayah yang berjarak 1.000 km jauhnya. Mereka memaksa untuk bertemu Pak Bupati diperankan oleh Gandung Bondowoso tapi dihalang-halangi oleh kedua Satpam. Setelah ribut dengan kedua satpam dan tidak bisa berjumpa dengan Pak Bupati mereka akhirnya menginap, di luar pagar.
Keesokan harinya mereka akhirnya dapat bertemu dengan Bupati yang sedang lari pagi,dan tetap dihalang-halangi Satpam. Satpam dimarahi Bupati karena menjauhkannya dari rakyatnya yang meminta bantuan.
Setelah berjumpa dengan Bupati mereka malah tidak percaya yang dihadapinya adalah penguasa wilayah itu. "Masa bupati hanya Menggunakan celana kolor krempeng. Tidak berwibawa sama sekali," demikian kata salah satu diantara mereka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bupati kemudian membalas, "Saya ini Bupati, meskipun hanya pakai kolor, tanda tangan saya sama kuatnya dengan saat berpakaian dinas. Daripada saya harus keluarkan pistol," tegasnya.
Mereka meragukan Bupati dan tidak ingin berdialog dengan orang yang tidak relevan. Tapi Bupati dan satpam menyatakan mereka adalah Bupati sesungguhnya. Agar sedikit berwibawa Bupati kemudian menggunakan celana panjang milik satpam, meski atasannya atasannya tetap kaos singlet.
Setelah melalui dialog panjang, rombongan akhirnya terpaksa mengakui orang yang di hadapannya adalah seorang Bupati. Mereka mendesak Bupati menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Anehnya mereka tidak pernah mengajukan pertanyaan sehingga Bupati dibuat pusing tujuh keliling.
Bupati terus didesak untuk menjawab pertanyaan. Namun sebelum menjawab pertanyaan ia meminta rombongan untuk mengajukan pertanyaan. Namun pertanyaan tidak pernah diajukkan. Dialog terus berkutat seputar pengajuan pertanyaan dan menjawab pertanyaan.
Pada dialog ini penonton menjadi sangat gemas. Mereka diajak pada keruwetan yang sebenarnya dengan mudah dapat diurai. Bukan mengajukan pertanyaan rombongan malah menunjukkan Bupati beberapa lelaki hamil. Bupati tambah bingung mengapa hal ini bisa terjadi. Dan rombongan itu terus meminta Bupati menjawab pertanyaan mereka.
"Kalo kamu tidak menjawab atau tidak mampu menjawab. Maka kami akan mengakhiri hidup," ancam nenek yang frustasi dengan nasib mereka karena pertanyaannya tidak pernah didengar sang penguasa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!