Maskulinitas dan Hambatan Pengobatan Postpartum Depression pada Ayah
📅 Selasa, 03 Jan 2023, 18:05 WIB | Oleh: Suliana
Doc: Medical Academic
Walau dalam banyak kasus, depresi pasca melahirkan atau postpartum depression lebih banyak terjadi pada sosok Ibu, memiliki anak pertama merupakan perubahan hidup yang sangat besar bagi sang ayah.
Penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Men's Health menunjukkan bahwa para ayah khususnya mereka yang baru pertama kali memiliki anak juga bisa mengalami postpartum depression.
Sebuah studi terhadap delapan ayah dengan postpartum depression di Denmark, menemukan bahwa pengalaman depresi utama para ayah melibatkan perasaan kewalahan dan tidak berdaya atau tidak mampu, yang terkadang berubah menjadi kemarahan dan frustasi.
Meskipun tak sedikit ayah yang merasakan perubahan suasana hati dan perilaku ketika retrospeksi, banyak dari mereka yang tidak menganggapnya sebagai tanda depresi sebelum didiagnosis.
Studi yang dipimpin Sarah Pedersen, dari Departemen Kesehatan Masyarakat, Aarhus University, mencatat enam dari delapan ayah yang diwawancarai dalam penelitian tersebut baru mencari bantuan usai mengalami gejala depresi selama beberapa bulan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perseden menilai ini terjadi karena postpartum depression tak banyak dibahas di kalangan pria. Ia menyampaikan empat dari delapan peserta studi menjelaskan mengalami postpartum depression sebagai hal tabu, berdasarkan kombinasi kepercayaan yang salah, stigma, dan norma maskulin.
Grant Blashki, penasihat klinis utama organisasi kesehatan mental Beyond Blue yang berbasis di Amerika, menuturkan stereotip maskulin membentuk stigma bahwa sosok ayah harus menjadi kuat dan suportif terhadap pasangan mereka.
Berbicara kepada BBC International, Black menjelaskan stigma itu kerap membuat para laki-laki merasa gagal sebagai ayah ketika mereka mengalami postpartum depression.
Sebaiknya Anda baca juga:
Beberapa bahkan menolak untuk menerima perawatan dan merasa lebih depresi karena tidak punya tempat untuk berbicara sementara yang lain merasa takut akan ditinggal pasangan mereka.
"Masih banyak mitos yang lazim seputar penyakit mental sebagai tanda kelemahan atau sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan sendiri oleh seorang pria," ujar Blashki.
"Mitos-mitos semacam ini dapat diperkuat dengan perasaan bahwa laki-laki harus menjadi yang kuat selama masa transisi ibu dan bayi yang besar ini," sambungnya.
Padahal, gejala postpartum depression pada ayah dapat berlangsung lebih lama dibandingkan pada Ibu.
Dalam sebuah survei terhadap 400 ibu dan ayah dari bayi prematur di unit perawatan intensif neonatal (NICU) tentang gejala depresi selama masa kelahiran dan penyembuhan, menemukan bahwa sepertiga ibu mengalami gejala depresi saat masuk NICU, yang juga dialami 17 persen ayah.
Tetapi skor depresi para ibu membaik setelah 30 hari berada di rumah, sementara gejala depresi para ayah pada dasarnya tidak berubah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!