Salah Pengertian, Tiga Penyelidik KPK Ditangkap Warga Desa Sukowono
📅 Kamis, 05 Mar 2020, 00:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: istimewa
JEMBER - Sebanyak tiga penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sempat dikepung warga Desa Sukowono, Jember, karena diduga sebagai penculik anak. Ketiga penyelidik KPK dibawa ke Polsek Sukowono dan diperiksa di Mapolres Jember. Kasus ini terjadi karena tidak adanya koordinasi di lapangan.
"Kejadiannya sekitar pertengahan Februari 2020 lalu, sebelum ada warga Jember yang diperiksa di Jakarta," kata Kasatreskrim Polres Jember, AKP Yadwivana Jumbo Qontason, di Mapolres Jember, Rabu (4/3).
Yadwivana menjelaskan peristiwa itu berawal saat warga melihat tiga orang asing berada di desa mereka. Tiga orang yang terdiri dua pria dan satu wanita itu membawa mobil berpelat L. Warga kemudian mencurigai ketiganya adalah penculik. Ini karena di desa itu santer isu penculikan.
Warga desa mendatangi mobil tersebut dan meminta ketiganya untuk menunjukkan identitas. Namun, ketiganya tak mau menuruti sehingga warga membawa ketiga orang tersebut ke Mapolsek Sukowono.
"Akhirnya warga membawa ke Polsek Sukowono, lalu dibawa ke Mapolres Jember," ujar Yadwivana.
Saat diperiksa aparat kepolisian, ketiganya mengaku sebagai orang dari KPK. "Kami koordinasi dengan pimpinan, memang dikonfirmasi benar ketiga orang ini adalah anggota KPK," ungkap Yadwivana.
Yadwivana tidak menjelaskan secara detail alasan kedatangan tiga penyelidik KPK tersebut ke Sukowono. Polisi juga tidak bisa memastikan apakah kedatangan mereka sebagai penyelidik atau bukan. "Tugasnya apa, kerjanya apa (polisi tidak tahu). Intinya, kami mengklarifikasi mereka bukan penculik, mereka benar-benar anggota KPK," papar dia. Setelah diperiksa, ketiganya dilepaskan.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Nurul Ghufron, membenarkan bahwa ada tiga orang penyelidik KPK yang dibawa warga ke Mapolsek di Jember. Tiga penyelidik KPK itu, kata Nurul, sedang melakukan penyelidikan tertutup.
Nurul mengakui, tiga penyelidik KPK itu memang tidak berkoordinasi lebih dahulu dengan pemerintah atau polisi setempat karena penyelidikan dilakukan dengan diam-diam. Nurul mengakui adanya peristiwa tersebut yang menurutnya disebabkan oleh kesalahpahaman antara penyelidik KPK dengan warga setempat.
"Namanya tertutup tidak pernah koordinasi dengan (pemerintah dan polisi) setempat memang karena memang inginnya silent, tertutup," kata Nurul. n Ant/P-4
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!